TREN.BISNISMARKET.COM - Kementerian Keamanan Negara China baru-baru ini menyampaikan sebuah klaim mengejutkan melalui platform WeChat mengenai adanya dugaan spionase maritim yang dilakukan oleh pihak asing. Beijing menuding bahwa negara-negara lain tengah mengawasi perairan teritorialnya menggunakan perangkat canggih yang disamarkan dalam bentuk biota laut.

Aktivitas intelijen tak kasat mata ini, menurut Kementerian, bertujuan untuk mengakumulasi data-data penting milik China terkait lingkungan dan keamanan maritim. Penyelidikan ini menyoroti eskalasi perang rahasia yang dilakukan melalui metode yang tidak konvensional di lautan.

"Hewan-hewan itu mengumpulkan data lingkungan yang sensitif, seperti suhu, salinitas, dan arus laut real time, dan mengirimkan ke luar negeri dengan satelit," ujar Kementerian Keamanan China, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Senin (22/6/2026).

Meskipun tuduhan ini telah diungkapkan secara terbuka, pihak kementerian tersebut belum memberikan rincian geografis spesifik mengenai di mana hewan-hewan mata-mata tersebut ditemukan. Mereka juga belum menunjuk secara langsung negara atau organisasi mana yang bertanggung jawab atas operasi ini.

Selain klaim mengenai hewan laut, Kementerian Keamanan China juga menyebutkan penemuan perangkat lain yang diduga digunakan untuk tujuan serupa. Salah satunya adalah pelampung yang dilengkapi dengan sensor meteorologi canggih.

Pelampung tersebut diklaim dipasang oleh lembaga peneliti dari kekuatan asing untuk memantau jejak akustik kapal selam milik China secara langsung atau real time. Hal ini menunjukkan fokus spionase pada aset militer strategis negara tersebut.

Lebih lanjut, Beijing juga mendeteksi adanya pesawat luncur gelombang yang memanfaatkan energi gelombang dan tenaga matahari untuk beroperasi. Alat ini diduga digunakan oleh pihak asing untuk mentransmisikan data lingkungan maritim yang berkaitan erat dengan aktivitas militer dan pergerakan kapal.

Klaim upaya spionase ini bukan kali pertama muncul di kawasan tersebut, terutama yang melibatkan area sensitif seperti Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan. Sebagai contoh, pada tahun 2024, China sempat mengumumkan penemuan mercusuar bawah laut yang diduga berfungsi memandu kapal selam asing.

Sementara itu, isu mengenai penggunaan hewan laut dalam operasi intelijen juga pernah diangkat oleh pihak lain di kancah global. Intelijen Inggris pada tahun 2023 pernah menuduh Rusia meningkatkan keamanan di pangkalan armada Laut Hitam Sevastopol dengan bantuan lumba-lumba yang telah dilatih.