TREN.BISNISMARKET.COM - Senin, 28 Juli 2026, menjadi hari yang kelam bagi bursa saham Asia, ditandai dengan kejatuhan pasar yang cukup dalam di berbagai negara. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi sorotan utama setelah mengalami koreksi drastis hingga lebih dari 10%, bahkan sempat menghentikan sementara perdagangannya.
Korea Exchange (KRX) mengumumkan penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 10.13 waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah indeks acuan Kospi merosot 542,24 poin atau 8,02% ke level 6.213,51.
Mekanisme trading halt diaktifkan ketika indeks turun minimal 8% dan bertahan pada level tersebut selama satu menit. Selama periode penghentian 20 menit, seluruh perdagangan saham di Korea Securities Market, kecuali obligasi, dihentikan.
Setelah periode penghentian berakhir, perdagangan dilanjutkan melalui mekanisme single-price call auction selama 10 menit. Penghentian sementara ini juga mencakup perdagangan derivatif berbasis ekuitas, seperti kontrak berjangka.
Aksi jual besar-besaran di pasar saham Korea Selatan, menurut Reuters, dipicu oleh gelombang pelemahan saham-saham teknologi global. Kekhawatiran meningkat mengenai prospek industri kecerdasan buatan (AI) menjadi biang kerok utamanya.
Investor mulai meragukan kemampuan investasi raksasa di sektor AI untuk menghasilkan imbal hasil yang sepadan, terutama setelah reli saham-saham teknologi yang spektakuler selama dua tahun terakhir.
Sentimen negatif semakin menguat menyusul laporan Wall Street Journal yang menyebut Nvidia sedang berdiskusi untuk memberikan jaminan pembiayaan sekitar US$250 miliar kepada OpenAI. "Diskusi tersebut terkait dengan proyek pembangunan pusat data berskala besar," demikian kutipan dari laporan tersebut.
Di sisi lain, The Information melaporkan bahwa perusahaan China, Shanghai Yuliangsheng, mulai memproduksi massal mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV). Teknologi ini krusial dalam pembuatan chip dan sebelumnya didominasi oleh perusahaan Belanda, ASML.
Kabar ini menimbulkan kekhawatiran bahwa China semakin cepat mengejar ketertinggalan dalam industri semikonduktor global, yang memicu aksi jual di saham-saham chip Asia. Saham ASML di Amsterdam dilaporkan anjlok lebih dari 8% pada perdagangan sebelumnya.