TREN.BISNISMARKET.COM - Harga minyak dunia dilaporkan kembali melonjak pada perdagangan Rabu (15/7/2026), mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh memanasnya kembali eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Secara spesifik, hingga Kamis (16/7/2026) pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak September (LCOc1) ditutup pada US$85,72 per barel. Angka ini menunjukkan kenaikan 1,17% dari posisi sebelumnya yang tercatat US$84,73 per barel.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga turut menguat. WTI ditutup di US$80,12 per barel, naik 0,98% dari penutupan hari sebelumnya di US$79,34 per barel.

Lonjakan harga ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama empat hari beruntun. Sejak penutupan perdagangan 10 Juli, harga Brent telah meroket sekitar 12,8%, sementara WTI menguat hampir 12,2%. Hal ini mengindikasikan premi risiko geopolitik kembali mendominasi pasar energi global.

Pemicu utama sentimen pasar berasal dari peningkatan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Militer AS dilaporkan telah menggempur sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran di Pulau Greater Tunb.

"Serangan tersebut berlangsung dalam dua gelombang sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran," demikian kutipan dari sumber yang mengabarkan perkembangan ini.

Washington menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk menghancurkan kemampuan militer Iran yang dianggap mengancam kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Angkatan Laut AS juga mengumumkan telah menghentikan sebuah kapal tanker yang menuju Pulau Kharg karena mengabaikan peringatan.

Menanggapi tindakan AS, negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memberikan respons keras. "Negara kami sedang menghadapi 'perang eksistensial dengan Amerika'," ujar Mohammad Baqer Qalibaf.

Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian mengklaim telah menyerang target-target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menggunakan rudal serta drone. Tindakan ini menunjukkan eskalasi konflik yang lebih luas.