TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan bursa saham Asia pada Jumat, 17 Juli 2026, ditutup mayoritas dalam zona pelemahan. Jepang menjadi negara yang paling terdampak, dengan indeks Nikkei 225 mengalami penurunan signifikan.
Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang menyasar saham-saham di sektor teknologi, khususnya perusahaan semikonduktor. Hal ini menyebabkan Indeks Nikkei 225 anjlok 6,11%, menghapus 4.081,77 poin, dan mendarat di level 62.753,77.
Bursa saham Asia lainnya pun turut merasakan tekanan serupa. Indeks Taiwan terpeleset 5,72%, Shenzhen turun 3,7%, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,98%, sementara Shanghai Composite melemah 1,64%.
"Gelombang aksi jual besar-besaran pada saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, menyeret Nikkei 225 anjlok 6,11% atau 4.081,77 poin ke level 62.753,77," demikian dilaporkan dalam pemberitaan.
Tekanan di pasar saham Jepang dipicu oleh sentimen negatif global (risk-off) yang menyapu pasar setelah bursa Wall Street mengalami koreksi tajam pada hari sebelumnya. Bahkan, pada awal perdagangan, Nikkei sempat kehilangan lebih dari 2.200 poin, menyentuh level terendah sejak 11 Juni.
Di Bursa Tokyo, jumlah saham yang mengalami penurunan mencapai 819 emiten, jauh melampaui 694 saham yang berhasil menguat. Aksi jual ini secara spesifik terkonsentrasi pada saham-saham semikonduktor berkapitalisasi besar.
Saham-saham pemberat utama indeks seperti Advantest, produsen peralatan pengujian chip, memberikan kontribusi penurunan sekitar 584 poin terhadap Nikkei. Tokyo Electron menyusul dengan pengurangan sekitar 508 poin.
"SoftBank Group sekitar 380 poin, Kioxia Holdings sekitar 196 poin, serta Ibiden sekitar 93 poin juga turut menjadi pendorong pelemahan indeks," jelas detail pergerakan saham.
Pelemahan signifikan pada saham-saham semikonduktor ini menegaskan tren negatif yang telah terlihat sejak perdagangan sebelumnya. Investor dilaporkan terus melepas saham-saham teknologi yang sebelumnya melesat berkat optimisme terhadap potensi kecerdasan buatan (AI).