TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ditutup menguat signifikan pada hari Kamis, 2 Juli 2026. Saham emiten pertambangan ini berhasil melonjak sebesar 5,75%, mengakhiri sesi di level harga Rp2.760 per saham.
Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya harga saham sempat mengalami pelemahan hingga mencapai Rp2.590 per saham pada tanggal 30 Juni 2026. Pergerakan harga pada hari Kamis tercatat bergerak dinamis dalam rentang Rp2.640 hingga mencapai titik tertinggi penutupan di Rp2.760.
Data perdagangan menunjukkan bahwa ANTM mencatatkan aktivitas transaksi yang cukup ramai. Total transaksi saham tercatat sebanyak 32.415 kali, dengan volume perdagangan mencapai 107.229.400 lembar saham. Nilai total transaksi harian saham ANTM mencapai Rp292,8 miliar.
Katalis utama kenaikan saham ANTM ini dikaitkan dengan beberapa sentimen positif di pasar, terutama peningkatan harga emas global. Menurut data Refinitiv, harga emas pada akhir semester I, tepatnya Selasa (30/6/2026), ditutup pada posisi US$ 4007,23 per troy ons, meskipun secara teknikal harga emas masih dalam tren bearish setelah menembus garis tren naik.
Kinerja fundamental ANTM turut mendukung optimisme pasar, terutama dari sektor penjualan emas. Penjualan emas perusahaan tercatat mencapai Rp66,47 triliun sepanjang tahun 2025, menunjukkan peningkatan sebesar 15% dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp57,56 triliun.
Peningkatan penjualan ini secara langsung mendongkrak total pendapatan perseroan, yang naik 22% menjadi Rp84,64 triliun pada 2025 dari capaian Rp69,19 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan ini sejalan dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan.
ANTM membukukan kinerja laba yang sangat mencolok pada tahun buku 2025, yakni laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun. Angka ini merupakan lonjakan signifikan sebesar 106% jika dibandingkan dengan laba tahun berjalan 2024 yang tercatat sebesar Rp3,85 triliun.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menggarisbawahi bahwa tren harga emas global yang kuat sebagai aset safe haven di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong positif bagi pergerakan ANTM. Selain itu, beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) memperkuat segmen bauksit dan alumina, serta kelancaran kuota produksi (RKAB) dan pemulihan rantai pasok domestik untuk sumber emas.
Nafan juga menyoroti adanya potensi hambatan dalam prospek emiten tersebut. "Meski begitu, tetap ada katalis negatif, yakni wacana kebijakan domestik terkait penyesuaian tarif royalti maupun windfall tax untuk sektor pertambangan yang dapat menggerus margin keuntungan jika diimplementasikan," ungkap Nafan kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/7/2026).