TREN.BISNISMARKET.COM - Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digulirkan pemerintah untuk menggerakkan roda ekonomi di tingkat pedesaan kini tengah menjadi sorotan. Keberadaannya diharapkan mampu memberikan dampak nyata, namun muncul pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana efektivitasnya di lapangan.
Sebagian koperasi yang telah dibentuk dinilai belum menjalankan aktivitas ekonomi yang berarti, sehingga capaian program lebih banyak bersifat administratif ketimbang operasional. "Masih ada yang hanya bangunan fisik, belum ada aktivitasnya," ujar Isnawati Hidayah dari Center of Economic and Law Studies (Celios).
Menurut Isnawati, aktivitas koperasi yang terbentuk sejauh ini masih didominasi oleh perdagangan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, LPG, dan pupuk. Padahal, tujuan awal pembentukannya adalah menjadi agregator hasil produksi pertanian, perikanan, maupun UMKM desa.
"Jangan sampai program pemerintah ini hanya mengejar output administrasi dengan mengatasnamakan program koperasi untuk ekonomi rakyat," tegas Isnawati yang disampaikan kepada Bisnis pada Selasa, 21 Juli 2026.
Pembentukan puluhan ribu koperasi tanpa kesiapan pasar, infrastruktur, maupun model bisnis yang matang dinilai berisiko hanya menghasilkan proyek administratif. Hal ini dapat berujung pada mangkraknya program yang seharusnya bertujuan memberdayakan masyarakat desa.
"Memaksakan target 40.000 desa tanpa kesiapan pasar, budaya konsumsi yang kuat, dan infrastruktur pendukung membuat risikonya proyek ini hanya seremonial yang akan mangkrak," jelas Isnawati.
Tantangan serupa juga terlihat di wilayah pesisir, di mana tanpa dukungan fasilitas seperti cold storage, logistik, dan jaringan distribusi yang memadai, peningkatan produksi ikan justru berpotensi menekan harga di tingkat nelayan.
Isnawati juga mengingatkan bahwa koperasi yang dibentuk melalui pendekatan top-down akan sulit berkembang jika tidak lahir dari kebutuhan riil masyarakat. "Kalau dari konsepnya terlihat meyakinkan, tetapi tidak tangible dan tidak visible. Koperasi harus berjalan secara organik," katanya.
Senada dengan itu, Yusuf Rendi Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) menilai fungsi koperasi yang masih menyerupai toko sembako merupakan konsekuensi dari model usaha paling mudah dijalankan oleh koperasi yang baru berdiri. Namun, menurutnya, koperasi seharusnya tidak bersaing langsung dengan warung desa.