TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Perlombaan pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin sengit mendorong raksasa teknologi untuk mengerahkan sumber daya finansial yang masif. Investasi besar-besaran ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terkait skema pengembalian modal dan potensi keuntungan di masa depan.
Alphabet, induk perusahaan Google, baru saja merilis laporan arus kas keluar yang mengejutkan para investor. Lonjakan belanja untuk pengembangan AI yang signifikan telah membebani salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia ini, sebuah tren yang diperkirakan akan terus berlanjut.
Selama kuartal kedua (Q2) 2026, Alphabet dilaporkan telah mengalokasikan dana sebesar US$5,9 miliar atau setara dengan Rp106 triliun untuk pengembangan AI. Pengeluaran jumbo ini terjadi bersamaan dengan pertumbuhan luar biasa sebesar 82% pada unit layanan cloud-nya, yang merupakan penyedia daya komputasi AI.
Perubahan signifikan dalam posisi kas ini menjadi indikator paling nyata bagaimana AI mentransformasi lanskap perusahaan teknologi raksasa (Big Tech). Sebelumnya, perusahaan-perusahaan ini dikenal memiliki margin keuntungan yang tinggi dan arus kas melimpah yang memudahkan pendanaan berbagai inisiatif baru.
Namun, eskalasi persaingan di ranah AI memaksa Big Tech untuk lebih mengandalkan instrumen utang dan penjualan saham guna membiayai pengeluaran operasional dan pengembangan mereka. Diproyeksikan, total utang perusahaan-perusahaan teknologi besar ini akan melampaui US$700 miliar atau sekitar Rp12.579 triliun pada tahun ini karena ketidakcukupan arus kas internal.
Situasi ini diperkirakan akan meningkatkan sorotan investor terhadap kinerja keuangan Microsoft, Meta Platforms, dan Amazon, yang dijadwalkan melaporkan laporan keuangan mereka pekan depan. Akibat kekhawatiran ini, saham Alphabet mengalami penurunan sekitar 6% pada sesi perdagangan Kamis (23/7), sementara saham Meta dan Amazon masing-masing susut sekira 3,5%. Saham Microsoft dilaporkan tidak menunjukkan perubahan signifikan.
Penurunan harga saham tersebut mencerminkan kekhawatiran investor bahwa raksasa teknologi lainnya kemungkinan akan mengikuti langkah Alphabet dalam menaikkan proyeksi belanja mereka, meskipun imbal hasil dari investasi tersebut belum sebanding dengan besarnya pengeluaran yang telah dilakukan.
Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets, menyoroti potensi peningkatan risiko lebih lanjut, terutama karena Microsoft dan perusahaan lain masih menghadapi kendala kapasitas. "Risiko cenderung mengarah pada peningkatan lebih lanjut, terutama selama Microsoft dan perusahaan lain masih terkendala masalah kapasitas," ujar Charu Chanana, dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).
"Namun, investor akan makin menyoroti seberapa besar kas yang harus diinvestasikan kembali demi mempertahankan daya saing. Selain itu, apakah pendapatan dari AI dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan belanja modal, penyusutan, dan biaya operasional," tambahnya, menekankan pentingnya metrik pertumbuhan pendapatan AI.