TREN.BISNISMARKET.COM - Proyeksi mengenai harga jual perangkat smartphone Android di masa mendatang mengindikasikan tren kenaikan yang substansial. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor kelangkaan komponen seperti RAM dan penyimpanan yang telah terjadi sejak akhir tahun 2025.

Pemicu utama kenaikan harga kali ini adalah lonjakan estimasi biaya untuk chipset mobile generasi terbaru yang dijadwalkan rilis pada tahun ini. Informasi mengenai peningkatan harga ini terungkap melalui beberapa bocoran yang kini beredar luas di ranah digital.

Bocoran tersebut mengindikasikan bahwa Qualcomm kemungkinan akan menetapkan harga jual chipset terbarunya melebihi ambang batas 300 dolar Amerika Serikat untuk para produsen ponsel. Angka ini setara dengan sekitar Rp 5,2 juta yang harus dibayarkan oleh vendor demi mengadopsi teknologi tersebut.

Biaya yang sangat besar ini diperlukan oleh produsen apabila mereka ingin mengintegrasikan chipset mobile generasi mendatang, yaitu Snapdragon 8 Elite Gen 6, ke dalam perangkat mereka. Harga ini jelas menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan pendahulunya.

Menurut pembocor gadget terkemuka, Abhishek Yadav, harga jual Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang dirilis tahun lalu berada di kisaran 240 hingga 280 dolar AS. Angka tersebut berkisar antara Rp 4,2 juta hingga Rp 4,9 juta, menjadikannya lebih murah dari prediksi harga baru.

Dengan demikian, harga Snapdragon 8 Elite Gen 6 diprediksi akan lebih mahal sekitar 20 hingga 60 dolar AS dibandingkan dengan Gen 5. Hal ini berarti terjadi kenaikan harga antara Rp 351.000 hingga Rp 1 juta untuk komponen inti tersebut.

Jika dibandingkan dengan chipset Snapdragon Gen 1 yang dulu dipatok seharga sekitar 120 dolar AS atau setara Rp 2,1 juta, kenaikan harga yang diprediksi untuk Gen 6 ini terbilang telah mengalami peningkatan dua kali lipat.

Snapdragon 8 Elite Gen 6 dikabarkan akan hadir dalam dua varian utama, yaitu versi standar dan versi Pro yang menawarkan kapabilitas performa lebih unggul. Versi Pro dikabarkan akan mengadopsi fabrikasi 2 nanometer dengan peningkatan signifikan pada unit pemrosesan grafis (GPU).

Sementara itu, model standar kemungkinan akan memiliki performa yang sedikit di bawah versi Pro, namun tetap akan menggunakan RAM berjenis LPDDR5X dan cocok untuk ponsel flagship pada umumnya. Versi Pro ditujukan untuk perangkat unggulan tertinggi, seperti Samsung Galaxy S27 Ultra atau model flagship dari Oppo, Vivo, dan Xiaomi.