TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menekankan perlunya penguatan inovasi dan teknologi pangan di Indonesia. Hal ini seiring dengan proyeksi peningkatan signifikan kebutuhan pangan nasional akibat pertumbuhan jumlah penduduk yang diprediksi mencapai sekitar 350 juta jiwa pada tahun 2045.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengemukakan bahwa pada tahun 2045, Indonesia diprediksi akan memiliki populasi yang sangat besar. "Indonesia sampai dengan tahun 2045 masa emas kita, Indonesia akan memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Itu diperkirakan 350 juta," ujar Taruna dalam sebuah seminar nasional.

Taruna menambahkan, dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 350 juta tersebut, Indonesia berpotensi melampaui Amerika Serikat yang saat ini memiliki populasi sekitar 315 juta jiwa. Hal ini terutama mengingat tingkat kelahiran di Amerika Serikat yang hanya sekitar 0,6%.

"Kan besar sekali, boleh jadi kita akan salip Amerika Serikat yang sekarang cuma 315 juta penduduknya, dengan tingkat kelahiran di sana cuma 0,6%," jelas Taruna mengenai potensi perbandingan populasi tersebut.

Pertumbuhan populasi yang pesat ini akan berimplikasi langsung pada peningkatan kebutuhan pangan nasional. Namun, pemenuhan kebutuhan pangan tersebut tidak dapat sepenuhnya bergantung pada ketersediaan lahan yang terbatas.

"Indonesia pasti akan membutuhkan pangan yang banyak. Nah, untuk mencapai kebutuhan pangan tadi tentu tidak semata-mata dari lahan kita yang terbatas," terang Taruna mengenai tantangan pemenuhan pangan.

Selain keterbatasan lahan, tantangan penyediaan pangan di masa depan juga semakin kompleks akibat berbagai faktor global. Dinamika geopolitik dan perubahan iklim menjadi beberapa isu yang memengaruhi ketersediaan pangan secara global.

Taruna juga menyinggung potensi fenomena El Nino yang diproyeksikan dapat memperbesar tantangan sektor pangan. "Selain itu, Indonesia masih menghadapi persoalan beban gizi nasional yang tinggi," tambahnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 80% anak-anak Indonesia menghadapi persoalan gizi. Angka ini mencakup 19,8% stunting, 40% defisiensi mikronutrien, dan 20% kelebihan berat badan (overweight).