TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah insiden kejahatan siber yang didorong oleh motif balas dendam baru-baru ini mengguncang dunia teknologi di Singapura. Seorang mantan tenaga ahli teknologi asal India, Kandula Nagaraju (39 tahun), terbukti secara ilegal meretas basis data internal perusahaan tempatnya bekerja.

Tindakan sabotase ini dilakukan setelah masa kerjanya di NCS, sebuah firma penyedia layanan teknologi yang berbasis di Singapura, berakhir. Pelaku memanfaatkan celah keamanan berupa kredensial lama yang belum dicabut oleh perusahaan.

Aksi ilegal tersebut berujung pada penghapusan total 180 server virtual yang berada dalam sistem pengujian korporasi. Perbuatan ini diperkirakan menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya.

Perusahaan NCS ditaksir menanggung kerugian sekitar S$918.000, yang setara dengan kurang lebih Rp12,8 miliar, akibat sabotase tersebut. Kasus ini kemudian dibawa ke ranah hukum dan pelaku telah dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan.

Dalam proses persidangan, terungkap bahwa akar permasalahan aksi nekat ini adalah rasa kecewa pelaku terhadap pemutusan kontrak kerjanya. Pelaku merasa tidak terima atas penghentian hubungan kerja tersebut karena ia merasa telah memberikan kontribusi dan kinerja yang baik selama bekerja.

Dilansir dari CNA, kontrak Kandula dengan NCS dihentikan pada Oktober 2022 lantaran kinerja yang dianggap buruk. Ia tercatat terakhir bekerja pada 16 November 2022, dan setelah itu ia kembali ke India karena belum mendapatkan pekerjaan lain di Singapura.

Antara November 2021 hingga Oktober 2022, Kandula merupakan bagian dari tim yang terdiri dari 20 orang yang bertugas mengelola sistem jaminan kualitas (QA) di NCS. Sistem tersebut krusial karena digunakan untuk menguji coba perangkat lunak dan program baru sebelum diluncurkan secara resmi.

"Itu adalah sistem pengujian mandiri," kata NCS dalam sebuah pernyataan kepada CNA pada Rabu, menegaskan bahwa sistem tersebut terdiri dari sekitar 180 server virtual dan tidak menyimpan informasi sensitif.

Setelah kembali ke India, Kandula mulai melancarkan aksinya dari jarak jauh menggunakan laptop pribadinya untuk mendapatkan akses ilegal ke sistem perusahaan. Ia berhasil menyusup sebanyak enam kali antara tanggal 6 Januari hingga 17 Januari 2023.