TREN.BISNISMARKET.COM - Amartha, platform fintech peer-to-peer lending, mencatatkan rekor signifikan dalam struktur pendanaan yang mereka kelola. Sebanyak 60% dari total dana yang berhasil disalurkan berasal langsung dari institusi perbankan.
Hal ini menunjukkan adanya tingkat kepercayaan yang tinggi dari lembaga keuangan formal terhadap operasional dan keberlanjutan bisnis Amartha. Kepercayaan ini menjadi faktor penentu dalam alokasi modal yang besar tersebut.
Fokus utama yang mendorong tingginya minat perbankan untuk menyalurkan dananya melalui Amartha adalah kualitas tata kelola perusahaan. Standar Good Corporate Governance (GCG) dinilai sangat kuat dan transparan oleh pihak perbankan.
Faktor tata kelola perusahaan yang solid ini menjadi pembeda utama bagi Amartha dibandingkan dengan penyalur dana lainnya. Perbankan sangat memperhatikan aspek kepatuhan dan manajemen risiko yang diterapkan.
"Faktor utama tingginya minat perbankan menyalurkan pendanaan melalui Amartha adalah standar tata kelola perusahaan yang dinilai kuat," demikian disampaikan oleh pihak terkait. Pernyataan ini menekankan pentingnya GCG dalam menarik modal institusional.
Dengan mengedepankan tata kelola yang kuat, Amartha mampu memitigasi risiko operasional dan kredit yang mungkin timbul dalam proses penyaluran dana ke UMKM. Ini memberikan jaminan lebih bagi para lender institusional.
Dominasi pendanaan perbankan ini turut mengindikasikan peran Amartha sebagai jembatan vital antara sektor perbankan konvensional dan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membutuhkan akses permodalan.
Proses penyaluran dana yang telah terstruktur dan teruji secara sistematis ini menjadi jawaban atas kebutuhan perbankan akan mitra penyalur yang kredibel dan akuntabel. Hal ini memperkuat ekosistem pendanaan nasional.
Dikutip dari informasi yang beredar, komposisi pendanaan ini menegaskan bahwa Amartha telah berhasil memenuhi ekspektasi ketat dari regulator dan lembaga keuangan besar di Indonesia. Keberhasilan ini patut dicermati lebih lanjut.