TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan pasar setelah adanya keputusan pembekuan dari MSCI. Keputusan ini diambil seiring dengan adanya kekhawatiran mengenai likuiditas saham yang dinilai sangat rendah di bursa.
MSCI telah mengumumkan pembekuan untuk beberapa komponen perhitungan indeks, termasuk number of shares (NOS) dan foreign inclusion factor (FIF) untuk saham GOTO. Pembekuan ini merupakan langkah antisipatif terhadap potensi isu dalam index replicability yang disebabkan oleh minimnya pergerakan saham.
Keputusan ini disampaikan oleh MSCI dan dikutip oleh Stockbit Sekuritas dalam catatannya pada Jumat, 29 Mei 2026. "MSCI akan kembali me-review likuiditas GOTO pada index review Agustus 2026 dan akan menghapus GOTO apabila likuiditas saham gagal memenuhi persyaratan," tulis catatan tersebut.
Pada penutupan perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari yang sama, saham GOTO terpantau masih berada di level Rp 50 per lembar, atau yang biasa disebut dengan level gocap.
Ironisnya, kondisi harga saham ini kontras dengan kinerja fundamental emiten yang belakangan diserok oleh Danantara tersebut. GOTO berhasil mencatatkan laba bersih positif pertamanya sebesar Rp 258 miliar pada kuartal I-2026.
Selain laba bersih, indikator kinerja operasional juga menunjukkan peningkatan signifikan, di mana adjusted EBITDA mencapai Rp 907 miliar, melonjak 131% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam operasional perusahaan.
Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, memberikan pandangannya mengenai capaian tersebut dalam risetnya. "Kinerja GOTO tersebut jauh melampaui titik tengah panduan kinerja tahunan perusahaan yang sebesar Rp 3,3 triliun, jika dihitung secara tahunan (annualized basis)," tulis Atikah Tri Adriyanti.
Namun, di tengah optimisme kinerja, muncul tantangan regulasi baru yang berpotensi menekan pendapatan GOTO. Pemerintah dikabarkan telah menyetujui pembatasan komisi maksimum untuk platform transportasi daring sebesar 8%.
Dampak dari regulasi pembatasan komisi ini diperkirakan cukup signifikan terhadap segmen bisnis ODS (on demand services) milik GOTO. Analis memproyeksikan potensi penurunan pendapatan layanan transportasi dan pengantaran tersebut bisa mencapai 35,7% secara tahunan pada tahun 2026.