TREN.BISNISMARKET.COM - Meta, raksasa teknologi global, kini menghadapi kritik internal setelah mengakui adanya kekeliruan dalam strategi investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI). Pengakuan ini datang dari CEO Meta, Mark Zuckerberg, beberapa bulan pasca-melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap ribuan karyawannya.

Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini sebelumnya telah melakukan PHK terhadap sekitar 8.000 karyawan. Bersamaan dengan itu, sebanyak 7.000 pegawai lainnya dialihkan ke berbagai proyek yang berkaitan dengan pengembangan AI.

Tindakan restrukturisasi besar-besaran ini, menurut Mark Zuckerberg, ternyata belum membuahkan hasil sesuai ekspektasi awal. Ia mengungkapkan bahwa percepatan perkembangan agen AI dalam empat bulan terakhir tidak secepat yang diharapkan oleh perusahaan.

"Perkembangan agen AI selama kurang lebih empat bulan terakhir belum benar-benar mengalami percepatan seperti yang kami harapkan," ujar Mark Zuckerberg, mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara target dan realisasi.

Lebih lanjut, Zuckerberg juga mengakui bahwa harapan Meta terhadap struktur baru perusahaan yang berfokus pada AI belum sepenuhnya terwujud. Harapan ini utamanya merujuk pada pengembangan agen kecerdasan buatan yang mampu beroperasi secara mandiri atas nama pengguna.

"Perusahaan juga belum membuahkan hasil," lanjutnya, menekankan bahwa ekspektasi terhadap kemajuan teknologi AI masih berada di bawah proyeksi.

Zuckerberg tidak menampik bahwa proses reorganisasi perusahaan yang menyertai PHK massal tersebut tidak berjalan dengan mulus. Ia secara terbuka mengakui adanya kesalahan dalam perhitungan waktu pelaksanaan perubahan strategis ini oleh jajaran eksekutif.

Keputusan untuk memangkas jumlah karyawan dan mengalihkan fokus ke AI ini sebelumnya telah diumumkan pada Mei lalu. Saat itu, Zuckerberg tegas menyatakan bahwa AI merupakan teknologi terpenting saat ini bagi Meta.

Dampak dari kebijakan PHK dan restrukturisasi ini mulai terasa di internal perusahaan. Berbagai keluhan muncul dari karyawan yang tersisa, termasuk mengenai sistem pemantauan kinerja yang kini banyak memanfaatkan teknologi AI.