TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah benda yang mungkin dianggap biasa, yaitu pulpen spidol, ternyata menyimpan peran vital dalam sejarah eksplorasi antariksa. Alat tulis sederhana ini menjadi penyelamat misi Apollo 11, yang membawa manusia pertama kali mendarat di Bulan, hampir 60 tahun silam.

Pulpen bersejarah tersebut baru-baru ini laku terjual dalam sebuah lelang di New York dengan nilai fantastis, mencapai lebih dari US$850 juta atau setara dengan Rp15,2 miliar. Nilai ekonomi yang ditawarkan menunjukkan betapa berharganya benda ini bagi para kolektor dan pecinta sejarah.

Benda bersejarah ini merupakan milik Buzz Aldrin, salah seorang astronaut yang menjadi bagian krusial dari misi Apollo 11. Bersama Neil Armstrong, Aldrin berhasil menjejakkan kaki di permukaan Bulan, sebuah pencapaian monumental bagi umat manusia.

Namun, kepulangan kedua astronaut tersebut ke Bumi nyaris terancam batal. Kerusakan pada pemutus sirkuit Modul Bulan menjadi kendala serius. Perangkat ini sangat esensial untuk mengalirkan daya listrik yang dibutuhkan mesin pengangkut modul kembali ke Modul Kendali yang mengorbit.

Menghadapi situasi kritis tersebut, para astronaut tidak tinggal diam. Mereka segera melaporkan insiden ini kepada Pusat Pengendalian Misi di Bumi, namun sayangnya, perbaikan dari jarak jauh tidak memungkinkan.

Kondisi darurat memaksa Aldrin dan Armstrong untuk mencari solusi mandiri. Mereka berupaya keras menemukan cara untuk memperbaiki kerusakan tersebut demi keselamatan mereka.

Dalam situasi mendesak itu, Buzz Aldrin teringat akan sebuah pulpen spidol yang dibawanya sebagai perlengkapan pribadi. Pulpen ini tidak terdaftar secara resmi dalam inventaris misi, namun selalu tersimpan di saku bahu pakaian antariksa Aldrin.

"Dengan berhati-hati, saya menekankan pena ke pemutus sirkuit lengan mesin. Saya tidak melepaskan ujung pena untuk sesaat, berharap bisa tetap menempel. Perlahan saya mengurangi tekanan pada tangan saya dan mengangkat ujung pena," demikian Aldrin menjelaskan cara improvisasinya dalam bukunya Dres is Too High.

Aksi nekat namun cerdik tersebut ternyata membuahkan hasil. Pemutus sirkuit kembali berfungsi dengan baik, memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Bumi. "Kita bisa kembali ke Bumi," ungkap Aldrin lega.