TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, pusat berita hari ini membahas peluncuran model kecerdasan buatan (AI) terbaru dari Meta, yakni Muse Image. Teknologi ini diklaim dapat mengubah cara pembuatan konten visual di berbagai platform Meta, termasuk Instagram dan WhatsApp.
What: Muse Image adalah model AI yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar visual hanya dengan mengetikkan perintah teks. Keunikan fitur ini adalah kemampuannya mengintegrasikan ciri fisik seseorang ke dalam gambar AI dengan cara yang sangat spesifik.
Who: Teknologi ini dikembangkan oleh Meta dan saat ini menjadi sorotan para pengamat teknologi serta pengguna layanan Meta di seluruh dunia. Pengguna akun publik menjadi pihak yang secara otomatis terpengaruh oleh kebijakan bawaan fitur ini.
How: Berbeda dari alat AI konvensional yang memerlukan unggahan gambar atau video, Muse Image langsung merujuk pada konten yang telah dipublikasikan. Pengguna cukup menggunakan format "@ diikuti nama akun" untuk memanggil data visual akun tersebut dalam perintah pembuatan gambar AI.
Contoh praktisnya, pengguna dapat mengetikkan perintah seperti "Buat gambar @gogon sedang berlibur di pantai," dan sistem AI akan menciptakan visual baru berdasarkan foto publik yang sudah ada di akun tersebut. Sistem ini mengklaim tujuannya adalah agar konten yang dihasilkan menjadi lebih relevan dengan subjek yang dituju.
When: Fitur baru ini telah dirilis oleh Meta dan secara otomatis diaktifkan untuk semua akun yang memiliki status publik. Hal ini menimbulkan perdebatan karena pengguna tidak diberitahu secara spesifik ketika foto mereka digunakan sebagai bahan baku pembuatan konten AI.
Why: Kebijakan aktivasi otomatis ini memicu kekhawatiran serius mengenai privasi dan persetujuan penggunaan data visual. Pengamat teknologi menekankan bahwa akun terbuka seharusnya tidak otomatis berarti persetujuan untuk dijadikan materi pelatihan AI tanpa izin eksplisit.
Prachir Singh, pengamat teknologi dan analis senior di Counterpoint Research, memberikan pandangannya mengenai isu ini dalam wawancara terbarunya. "Teknologi ini harus memudahkan, bukan mengorbankan keamanan. Di era di mana wajah dan foto kita bisa menjadi data, pengaturan privasi yang jelas menjadi sangat penting. Sekadar menjadikan akun terbuka tidak berarti orang rela dijadikan bahan baku AI tanpa persetujuan," kata Prachir Singh kepada The Economic Times pada 8 Juli 2026.
Donald Campbell, Direktur Advokasi Foxglove, juga menegaskan adanya potensi bahaya dari implementasi fitur tersebut. "Ini ibarat membuka pintu lebar-lebar untuk manipulasi gambar tanpa izin. Kita sudah melihat dampak buruknya, mulai dari pencemaran nama baik hingga penyebaran gambar palsu," kata Donald Campbell kepada BBC.