TREN.BISNISMARKET.COM - Sindikat kejahatan siber, khususnya yang bergerak di bidang judi online, dilaporkan telah mengembangkan modus operandi baru yang menyasar kelompok rentan dalam masyarakat. Mereka memanfaatkan warga, terutama yang berasal dari kalangan kurang mampu, untuk membuka rekening bank.

Rekening-rekening inilah yang kemudian digunakan sebagai sarana penampung transaksi keuangan ilegal. Modus ini terbilang cukup licik karena menawarkan imbalan finansial yang menggiurkan bagi para pesertanya.

Besaran imbalan yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp500.000. Tawaran ini ditujukan kepada individu yang memiliki kebutuhan finansial mendesak, seperti para petani dan ibu rumah tangga.

"Bagaimana mudahnya kemudian membuat penampungan rekening dengan meminta kepada masyarakat yang kurang mampu dibayar Rp100.000-Rp500.000 untuk membuat rekening-rekening penampungan," ungkap Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dalam sebuah forum yang diadakan oleh OJK pada pekan ini.

Para pihak yang dimanfaatkan dalam jaringan ini diduga tidak sepenuhnya menyadari bahwa rekening yang mereka buka akan digunakan untuk kegiatan yang melanggar hukum. Hal ini menunjukkan adanya celah dalam proses rekrutmen dan edukasi kepada masyarakat.

Menteri Meutya Hafid menilai bahwa praktik ilegal ini seharusnya dapat terdeteksi dan dicegah sejak dini. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat implementasi prinsip "know your customer" (KYC) di seluruh jenjang perbankan, termasuk hingga ke daerah-daerah terpencil dan gerai layanan bank.

"Sebetulnya kalau KYC dikuatkan hingga ke daerah atau gerai-gerai perbankan, ini bisa dideteksi lebih awal," jelasnya.

Beliau menambahkan bahwa keberadaan nasabah dengan jumlah rekening yang banyak namun saldo yang kecil seharusnya menjadi salah satu indikator penting bagi pihak bank untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mencegah penyalahgunaan.

"Terutama kalau rekeningnya jumlahnya banyak, tetapi angka saldonya tidak banyak, itu juga pasti dapat dideteksi lebih awal kalau kita semua hati-hati," ujar Menteri Meutya Hafid.