TREN.BISNISMARKET.COM - Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang melimpah, salah satunya adalah tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum). Tanaman yang tumbuh subur di wilayah pesisir ini kini dilirik sebagai solusi potensial untuk pengembangan energi terbarukan sekaligus rehabilitasi lahan kritis.
Melalui riset mendalam yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), nyamplung menunjukkan prospek cerah sebagai bahan baku biofuel berkelanjutan. Keunggulan utamanya adalah tidak bersaing dengan kebutuhan pangan masyarakat.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) BRIN, Budi Leksono, menggarisbawahi potensi besar biji nyamplung. Kandungan minyak yang tinggi dalam bijinya membuka peluang untuk diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar nabati inovatif.
"Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam agenda transisi energi global," ujar Budi Leksono, Minggu (12/7/2026).
Budi Leksono menambahkan bahwa biji nyamplung bahkan dapat mengandung minyak hingga 60-70 persen. Produktivitas tanaman yang relatif tinggi ini menjadikan nyamplung sebagai salah satu kandidat unggulan tanaman energi berbasis tanaman hutan.
Keunggulan lain dari nyamplung adalah statusnya sebagai tanaman asli Indonesia yang tersebar luas. Kemampuannya tumbuh di lahan marginal atau lahan kritis yang kurang cocok untuk budidaya tanaman pangan menjadi nilai tambah signifikan.
"Karakteristik tersebut membuka peluang pemanfaatan lahan terdegradasi secara produktif sekaligus mendukung upaya pemulihan lingkungan," jelas Budi Leksono mengenai manfaat nyamplung.
Selain sebagai sumber energi, pengembangan nyamplung juga berkontribusi pada strategi rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan. Tanaman ini juga berpotensi mendukung pencapaian Net Zero Emission berkat kemampuan menyerap karbon yang tinggi.
"Pengembangan nyamplung tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan," kata Budi Leksono.