TREN.BISNISMARKET.COM - Di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, investasi di sektor pialang berjangka justru menunjukkan daya tarik yang semakin meningkat bagi para investor.

Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Direktur Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, dalam sebuah kesempatan diskusi mengenai kondisi pasar terkini.

Perdagangan berjangka menawarkan keunggulan signifikan karena investor memiliki fleksibilitas untuk melakukan aksi beli atau jual terlebih dahulu pada produk-produk yang diperdagangkan di bursa berjangka.

Fleksibilitas ini menjadi krusial mengingat tingginya volatilitas harga yang dipicu oleh ketidakpastian global, yang mana dapat dimanfaatkan investor untuk mengejar selisih harga demi keuntungan transaksi.

"Di masa ini perdagangan berjangka menawarkan produk yang fleksibel karena investor bisa membeli maupun menjual terlebih dahulu di produk bursa berjangka," ujar Ariston Tjendra.

Lebih lanjut, Ariston Tjendra menjelaskan bagaimana volatilitas harga akibat ketidakpastian global dapat menjadi peluang, "dimana volatilitas Harga yang tinggi yang disebabkan ketidakpastian global sehingga bisa dimanfaatkan oleh investor untuk mendapatkan selisih Harga sebagai cuan transaksi."

Doo Financial Futures mencatat bahwa komoditas emas masih mendominasi aktivitas perdagangan di bursa berjangka, menyumbang sekitar 80% dari total transaksi yang tercatat.

Dari sisi regulasi domestik, penerapan Undang-Undang Perlindungan Sektor Jasa Keuangan (UU P2SK) diharapkan dapat memperkuat tata kelola dan meningkatkan keyakinan investor terhadap pasar bursa berjangka.

Pengawasan transaksi bursa berjangka kini berada di bawah koordinasi regulator utama, yaitu Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).