TREN.BISNISMARKET.COM - Di tengah dinamika ekonomi global dan geopolitik yang masih bergejolak, sektor pusat perbelanjaan di Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup signifikan. Tingkat kunjungan masyarakat ke mal-mal tercatat relatif stabil, menunjukkan bahwa pusat belanja masih menjadi magnet utama bagi warga.

Ketahanan ini diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, dalam sebuah dialog. Beliau menyoroti bahwa mal tetap berfungsi sebagai titik kumpul komunal bagi masyarakat.

Namun, stabilitas kunjungan ini diiringi dengan perubahan perilaku belanja yang nyata di kalangan konsumen. Perubahan pola ini terlihat dari preferensi masyarakat terhadap produk yang memiliki unit price atau harga satuan yang lebih murah.

Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh pelemahan daya beli yang dialami oleh segmen masyarakat kelas menengah bawah. Akibatnya, pengeluaran untuk barang konsumsi cenderung beralih ke produk-produk yang lebih terjangkau.

"Mal atau pusat belanja menjadi pusat berkumpul bagi masyarakat meski terjadi perubahan pola belanja ke produk dengan unit price yang murah," ujar Alphonzus Widjaja.

Selain itu, pola belanja masyarakat masih sangat bergantung pada faktor musiman dan situasi pasar terkini. Saat ini, sektor ini tengah melalui masa low season setelah berakhirnya periode ramai pasca-Ramadan dan Lebaran.

Di sisi lain, tantangan operasional semakin berat akibat tekanan ekonomi makro. Pelemahan nilai tukar Rupiah dan gejolak global telah menyebabkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kenaikan BBM ini secara langsung berdampak pada peningkatan biaya logistik, yang kemudian mendongkrak total biaya operasional pusat perbelanjaan. "Biaya operasional melonjak lebih dari 30%," kata Alphonzus Widjaja.

Menghadapi tantangan biaya operasional yang tinggi dan kondisi pasar yang spesifik, para pengembang pusat belanja kini mengalihkan fokus ekspansi mereka. Fokus pembangunan pusat belanja baru kini banyak diarahkan ke wilayah di luar Pulau Jawa.