TREN.BISNISMARKET.COM - Proyek pengembangan hunian vertikal perkotaan yang digarap oleh PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP), anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), kini menghadapi gelombang protes dari para konsumennya. Keluhan utama berpusat pada molornya jadwal serah terima fisik bangunan yang jauh dari janji awal pengembang.

Gelombang keluhan ini ramai dibagikan oleh para konsumen melalui media sosial, khususnya di platform Threads. Salah satu akun, @itdwi, menyuarakan kekecewaannya terkait hunian vertikal LRT City Ciracas yang hingga kini belum juga diserahterimakan. Tim Bisnis telah berupaya mengonfirmasi lebih lanjut kepada akun tersebut namun belum mendapatkan tanggapan.

Kicauan @itdwi tersebut sontak mengundang banyak konsumen lain untuk berbagi pengalaman serupa. Akun @brochuys, yang juga merupakan pembeli unit di LRT Ciracas, menjelaskan kronologinya. Ia telah melakukan pembelian pada Juni 2023 dengan janji serah terima unit pada Desember 2023.

"Tiap hari naik LRT dari situ kok makin kesini semakin tidak ada progress, sejak setelah Lebaran 2025 tidak pernah ada lagi pekerja konstruksinya. Akhirnya, memutuskan untuk tidak lanjut mencicil," ungkapnya pada Selasa (21/7/2026) dikutip dari Bisnis.com.

Konsumen tersebut mengaku telah mencicil pembelian unit selama 20 bulan. Namun, demi menghindari kerugian yang lebih besar, ia memutuskan untuk menghentikan pembayaran Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

"Biarin lah hilang duit 20 bulan, daripada lebih banyak lagi hilangnya. Lapor ke bank sudah tidak mau lanjut cicil, silakan bank buyback saja ke developernya," imbuhnya.

Tak hanya keluhan dari konsumen LRT City Ciracas, sejumlah pembeli unit di wilayah lain seperti Cibubur dan Tebet juga mengalami nasib serupa. Mayoritas konsumen dijanjikan serah terima unit pada rentang waktu 2023 hingga 2024, namun hingga kini proses tersebut belum juga terealisasi.

Menanggapi keresahan para konsumen, manajemen PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP) mengakui adanya keterlambatan progres pembangunan. Keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa faktor krusial yang dihadapi perusahaan.

Direktur Operasi PT ADCP, Farid Budiyanto, menjelaskan bahwa hambatan proyek tersebut meliputi tekanan likuiditas yang dialami perseroan serta proses restrukturisasi yang sedang berjalan. Hal ini berdampak pada kelancaran operasional dan penyelesaian proyek.