TREN.BISNISMARKET.COM - Proyeksi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2026 menunjukkan adanya gambaran penerimaan negara yang cukup solid, meskipun ada sedikit koreksi pada sektor perpajakan. Proyeksi ini disampaikan dalam rapat kerja di hadapan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan di tahun 2026, yang mencakup pajak serta kepabeanan dan cukai, diprakirakan akan terealisasi sebesar 97,6% dari target yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan upaya pemerintah dalam mengumpulkan penerimaan negara berjalan mendekati sasaran utama.

Dilansir dari Bisnis.com, penerimaan pajak dan bea cukai hingga akhir tahun 2026 diproyeksikan mencapai angka Rp2.631,4 triliun dari target awal sebesar Rp2.693,7 triliun. Angka ini menunjukkan adanya sedikit kekurangan (shortfall) dalam pencapaian target pajak tahunan.

Rincian proyeksi menunjukkan penerimaan pajak diprediksi mencapai Rp2.310,8 triliun, yang berarti terealisasi 98% dari targetnya. Sementara itu, penerimaan dari sektor bea dan cukai diperkirakan mencapai Rp320,6 triliun, yaitu sekitar 95,4% dari target yang ditetapkan.

Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menunjukkan kinerja yang sangat positif dan diproyeksikan akan melampaui target yang ditetapkan dalam APBN. PNBP diperkirakan akan terealisasi hingga Rp575,1 triliun dari target awal yang hanya Rp459,2 triliun.

Hal ini dikonfirmasi oleh Ketua Banggar DPR Said Abdullah saat rapat kerja dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia pada Selasa (7/7/2026). "Prognosis PNBP mencapai Rp575,1 triliun atau 125% dari target," jelas Ketua Banggar DPR Said Abdullah.

Performa penerimaan negara hingga paruh pertama tahun 2026 menunjukkan tren yang baik, di mana realisasi perpajakan telah mencapai Rp1.187,8 triliun atau 44,1% dari target APBN. Penerimaan pajak terkumpul Rp1.035,7 triliun, sedangkan bea cukai terealisasi Rp152 triliun.

Sementara itu, setoran PNBP hingga semester I/2026 juga menunjukkan capaian kuat, yaitu terealisasi sebesar Rp271 triliun, mencerminkan 59% dari target yang telah dibebankan. Kinerja PNBP ini menjadi penyeimbang signifikan bagi realisasi penerimaan negara secara keseluruhan.

Meskipun penerimaan menunjukkan tren positif, Said Abdullah turut menyoroti peningkatan signifikan pada beban pembayaran utang negara hingga semester I/2026. Pembayaran utang tercatat mencapai Rp477,4 triliun, jauh melampaui periode yang sama di tahun sebelumnya.