TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan nilai tukar Rupiah di pagi hari menunjukkan tren pelemahan yang berkelanjutan, setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis penting Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan hari sebelumnya, Jumat (13/5). Pelemahan ini menempatkan mata uang Garuda pada posisi yang lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan hari itu, kurs Rupiah tercatat melemah tipis sebesar 0,08% dan berada di posisi Rp 17.541 per dolar AS. Kondisi ini sejalan dengan sentimen pasar yang tengah menggerus kekuatan mayoritas mata uang lain di kawasan Asia terhadap mata uang 'safe haven' Amerika Serikat.

Berdasarkan pantauan data dari Bloomberg pada pagi hari, Rupiah sempat menunjukkan sedikit penguatan saat pembukaan pasar. Kurs dibuka menguat 13 poin di level Rp 17.515 per dolar AS, namun tren positif tersebut tidak bertahan lama.

Menjelang pukul 09.52 WIB, tekanan jual kembali mendominasi, mendorong Rupiah terus terdepresiasi hingga mencapai level Rp 17.541 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan adanya kekhawatiran pasar global yang turut memengaruhi pergerakan aset di Indonesia.

Mayoritas mata uang regional turut merasakan tekanan yang sama saat berhadapan dengan Dolar AS. Sebagai contoh, Rupee India melemah 0,34%, Won Korea Selatan terkoreksi 0,29%, Peso Filipina melemah 0,03%, dan Yen Jepang turun 0,04%. Bahkan Dolar Singapura ikut tergerus tipis sebesar 0,01%.

Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia mengalami pelemahan; Baht Thailand justru berhasil menguat 0,17%, Ringgit Malaysia naik 0,12%, dan Yuan Cina juga menunjukkan penguatan sebesar 0,06% terhadap Dolar AS pada periode yang sama.

Menanggapi dinamika ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah saat ini dipicu oleh beberapa faktor eksternal dan domestik. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global dan menambah ketidakpastian ekonomi dunia.

Selain faktor global, terdapat pula dorongan dari sisi domestik yang meningkatkan permintaan mata uang dolar AS secara musiman. "Sedangkan dari sisi domestik, terdapat peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen serta kebutuhan pembayaran ibadah haji," ujar Destry Damayanti.

Menghadapi situasi ini, Bank Indonesia telah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar. "BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan rupiah," ujar Destry dalam keterangan resmi, Selasa (13/5).