TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia saat ini tengah mematangkan rencana strategis pembangunan megaproyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW). Proyek ambisius ini menjadi salah satu agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto sejak awal masa kepemimpinannya.

Proyek GSW dirancang dengan tujuan utama untuk melindungi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang terkonsentrasi di kawasan pesisir utara Pulau Jawa. Kawasan ini memiliki peran krusial bagi perekonomian negara.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmad Pambudy, memaparkan bahwa kegiatan ekonomi di sepanjang koridor utara Jawa menyumbang 27% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Oleh karena itu, perlindungan terhadap wilayah ini menjadi sebuah keharusan mutlak.

"Perubahan iklim berpotensi menimbulkan kerugian sosial ekonomi yang besar. Paling tidak terdapat 319 kabupaten kota yang saat ini tingkat kerentanan iklimnya sangat tinggi dengan potensi kerugian mencapai Rp544 triliun atau lebih dari Rp2.000 triliun pada tahun 2029 kalau tidak diatasi," ujar Rachmad Pambudy dalam sebuah dialog kebijakan di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menanggapi ancaman tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengaku sedang melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan. Koordinasi ini penting untuk perencanaan pembangunan GSW.

Data dari Kemenko IPK menunjukkan tingkat penurunan permukaan tanah (land subsidence) di kawasan Pantura Jawa mencapai 5 cm hingga 20 cm per tahun. Fenomena ini dipicu oleh pemuaian air laut akibat pemanasan global dan eksploitasi air tanah yang masif.

"Can you imagine? Kalau kita bikin tanggul pantai, dalam 10 tahun ya sudah makin turun lagi dan air laut juga naik terus. Ini mengapa? Karena ekstraksi air tanah," tegas Agus Harimurti Yudhoyono.

Wilayah pesisir Jakarta, Semarang, dan Demak tercatat mengalami penurunan muka tanah paling parah, dengan potensi penurunan hingga 2 meter dalam satu dekade ke depan.

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyebutkan bahwa konstruksi GSW akan mencakup sekitar 575 kilometer sepanjang Pantura Jawa. Pendekatan pembangunan ini akan mengintegrasikan struktur fisik modern dengan solusi berbasis alam.