TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) akan menggelar Sensus Ekonomi pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026. Kegiatan ini dinilai sangat penting untuk memetakan perubahan lanskap ekonomi Indonesia yang terus berkembang pesat.

Transformasi ekonomi digital, maraknya usaha rumahan, serta munculnya pekerjaan berbasis platform menjadi sorotan utama yang perlu didata secara akurat. Sensus ini melampaui sekadar menghitung jumlah unit usaha.

Peneliti Ekonomi dari Great Institute, Trisha Devita, menekankan bahwa sensus ini merupakan fondasi krusial bagi pemerintah. Data yang dihasilkan akan membantu pemahaman mendalam mengenai struktur ekonomi nasional yang kian kompleks.

"Sensus Ekonomi bukan hanya berkaitan dengan berapa banyak usaha atau perusahaan yang beroperasi di Indonesia," ujar Trisha Devita.

Ia menambahkan bahwa data sensus membantu negara memahami bagaimana kegiatan ekonomi berkembang, bagaimana lapangan kerja tercipta, dan wilayah mana yang membutuhkan dukungan pembangunan lebih besar. Hal ini penting untuk menghindari kebijakan yang dibangun di atas asumsi.

"Tanpa data yang akurat, kebijakan berisiko dibangun berdasarkan asumsi dan tidak sepenuhnya menjawab kondisi masyarakat," jelas Trisha Devita.

Data yang lengkap dan mutakhir menjadi prasyarat utama dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Ini memungkinkan pemerintah merancang program yang lebih tepat sasaran.

Pembaruan data ekonomi menjadi semakin mendesak mengingat struktur ekonomi Indonesia telah berubah signifikan dalam satu dekade terakhir. Aktivitas ekonomi kini meluas ke ranah digital dan informal.

"Banyak kegiatan ekonomi hari ini tidak selalu terlihat dari bangunan usaha formal," kata Trisha Devita.