TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026, mata uang Rupiah tercatat melanjutkan tren pelemahannya terhadap Dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda dibuka dengan pelemahan sebesar 0,27%, menempatkannya pada posisi Rp18.054 per Dolar AS.
Pergerakan Rupiah yang melemah ini terjadi meskipun eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mulai mereda. Hal ini mengindikasikan adanya faktor lain yang lebih dominan membebani pergerakan mata uang domestik.
Tidak berselang lama setelah pembukaan pasar, Rupiah kembali mengalami tekanan yang lebih dalam. Pada pukul 09:01 WIB, mata uang Indonesia ini tercatat tersungkur lebih jauh dengan pelemahan mencapai 0,35%, diperdagangkan pada level Rp18.068 per Dolar AS.
Meskipun tensi konflik global menunjukkan tanda-tanda mereda, hal ini tidak serta merta memberikan dorongan penguatan bagi mata uang di kawasan Asia. Mayoritas mata uang di benua Asia justru dilaporkan mengalami pelemahan secara bersamaan.
Dolar Taiwan menjadi mata uang yang mengalami pelemahan paling signifikan di Asia pada hari itu, tercatat terkoreksi sebesar 0,39%. Di belakangnya, Rupiah Indonesia juga turut merasakan tekanan yang sama, diikuti oleh Won Korea Selatan.
Selain Rupiah dan Won, beberapa mata uang Asia lainnya yang juga terpantau melemah antara lain Peso Filipina, Dolar Singapura, Yuan China, serta Ringgit Malaysia dan Yuan Offshore. Hanya Dolar Hong Kong yang mampu mencatat apresiasi tipis sebesar 0,01%.
Polda Metro Jaya Pertimbangkan Ekshumasi Jenazah Diduga Pekerja Rumah Tangga Febrie Adriansyah
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, justru mengalami sedikit penyusutan. Indeks ini tercatat sedikit menyusut 0,05% ke posisi 101,48 pada perdagangan tersebut.
Menurut analisis dari Bloomberg Intelligence, Dolar AS diprediksi memiliki potensi untuk melemah terhadap sebagian besar mata uang Asia. Prediksi ini muncul setelah Dolar AS terlebih dahulu mengalami fase konsolidasi pada paruh kedua tahun ini.
"Dolar AS berpotensi melemah terhadap sebagian besar mata uang Asia, setelah terlebih dulu mengalami fase konsolidasi pada semester kedua tahun ini," demikian kutipan dari Bloomberg Intelligence.