TREN.BISNISMARKET.COM - Era dominasi Nvidia sebagai raksasa chip kecerdasan buatan (AI) mulai menunjukkan pergeseran signifikan setelah popularitas AI meledak sejak tahun 2022, menjadikan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini primadona Wall Street. Pendapatan Nvidia tercatat terus mencetak rekor dari kuartal ke kuartal, bahkan berhasil mengamankan posisi sebagai perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$4.769 triliun.

Namun, kejayaan tersebut kini menghadapi tantangan berat, salah satunya adalah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan China yang berdampak langsung pada bisnis mereka. Kebijakan protektif AS yang melarang ekspor chip AI tercanggih ke China telah menyebabkan pangsa pasar Nvidia di negara tersebut tergerus hingga nol, padahal China merupakan pasar krusial bagi pendapatan perusahaan.

Situasi semakin kompleks ketika pemerintahan AS di bawah Trump melunak dan mengizinkan penjualan chip AI H200 ke China, namun pihak Beijing di bawah kekuasaan Xi Jinping memilih bersikap hati-hati dan belum memberikan izin resmi masuknya chip tersebut. Akibatnya, nasib investasi Nvidia di pasar China saat ini masih berada dalam ketidakpastian.

Di samping tekanan geopolitik, muncul kekhawatiran investor mengenai potensi "gelembung" AI yang dinilai terlalu mahal dan berisiko, sehingga mengguncang stabilitas bisnis Nvidia. Selama periode 30 hari terakhir, saham Nvidia tercatat mengalami tren pelemahan sebesar 5,61%, meskipun secara kumulatif sejak awal tahun masih menunjukkan kenaikan 8,08%.

Di tengah gejolak yang dialami Nvidia, muncul pemain baru yang mengambil peran sentral dari Asia, yakni Samsung Electronics dari Korea Selatan, yang kini diproyeksikan menjadi raja baru dalam hal profitabilitas kuartalan. Ledakan permintaan AI secara simultan memicu krisis kelangkaan memori global yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur pusat data AI.

Fenomena kelangkaan memori ini membawa berkah besar bagi Samsung, yang merupakan produsen chip memori terbesar di dunia. Pada Selasa (7/7), Samsung mengumumkan panduan laba awal yang sangat optimis untuk kuartal kedua (Q2) tahun 2026 mendatang.

Samsung memproyeksikan akan mencatat laba operasional senilai 89,4 triliun won (setara US$58,5 miliar atau sekitar Rp1.053 triliun) untuk periode April hingga Juni 2026. Proyeksi angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan lebih dari 18 kali lipat dibandingkan dengan laba operasional mereka pada periode yang sama tahun 2025 yang hanya mencapai 4,7 triliun won (sekitar Rp56 triliun).

Berdasarkan estimasi laba kuartalan tersebut, Samsung telah berpotensi menggeser posisi Nvidia sebagai perusahaan paling profitable di dunia berdasarkan laba operasional kuartalan. "Berdasarkan estimasi tersebut, Samsung telah menggeser Nvidia sebagai perusahaan paling profitable di dunia berdasarkan laba operasional kuartalan," Dikutip dari Sammobile, Rabu (8/7/2026).

Saat ini, Nvidia masih memegang rekor laba operasional terbesar dengan angka US$58,3 miliar (sekitar Rp1.049 triliun) yang dicapai pada Q1 2026, namun mereka belum merilis kinerja Q2 2026. Estimasi laba operasional Q2 2026 Samsung telah melampaui laporan kuartalan terakhir yang diumumkan oleh Nvidia.