TREN.BISNISMARKET.COM - Warren Buffett, pimpinan Berkshire Hathaway, kembali mengingatkan para investor mengenai pentingnya memegang teguh prinsip investasi yang tepat saat menghadapi kejatuhan pasar saham. Hal ini menjadi krusial mengingat fluktuasi bursa sering kali memicu kepanikan massal bagi para pemodal pemula.

Berdasarkan informasi yang dirilis pada 16 Mei 2026, Buffett menekankan bahwa menjaga ketenangan adalah kunci utama ketika harga saham merosot tajam. Reaksi yang emosional dan terburu-buru justru berpotensi besar merugikan portofolio investasi dalam jangka panjang.

"Pasar saham dirancang untuk memindahkan uang dari pihak yang terlalu aktif merespons kepada mereka yang memiliki kesabaran," ujar Warren Buffett sebagaimana dikutip dari Personalfinance.

Selain faktor kesabaran, filosofi investasi pria berjuluk 'Oracle of Omaha' ini berfokus pada pemanfaatan psikologi massa di bursa saham. Ia menyarankan investor untuk berani mengambil langkah yang berlawanan dengan arus sentimen mayoritas pasar.

"Bersikaplah takut saat orang lain serakah, dan bersikaplah serakah hanya saat orang lain merasa takut," kata Warren Buffett dalam menjelaskan prinsip ikoniknya tersebut.

Strategi ini terbukti efektif saat krisis finansial 2008, di mana Buffett berani menyuntikkan dana ke Goldman Sachs melalui kesepakatan obligasi preferen. Keputusan yang diambil di tengah ketakutan pasar tersebut akhirnya membuahkan keuntungan yang sangat besar bagi perusahaannya.

Buffett juga menyarankan agar investor lebih fokus pada evaluasi mendalam terhadap kekuatan fundamental bisnis dibandingkan sekadar melihat pergerakan harga jangka pendek. Indikator seperti relevansi produk dan dominasi pangsa pasar menjadi tolok ukur utama dalam menilai sebuah perusahaan.

Sebagai contoh nyata, ia membeli saham Washington Post pada tahun 1973 saat kondisi pasar sedang melemah dan harga berada di bawah nilai intrinsiknya. Investasi awal sebesar US$ 10,6 juta tersebut melonjak drastis menjadi lebih dari US$ 200 juta pada tahun 1985.

Mengenai upaya menebak momentum naik atau turunnya bursa (market timing), Buffett menganggap tindakan tersebut sebagai aktivitas yang sia-sia atau permainan bodoh. Ia lebih memilih untuk mempertahankan aset berkualitas dalam jangka sangat panjang, seperti pada saham Coca-Cola dan American Express.