TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Senin (8/6/2026) menyajikan pemandangan yang kurang menyenangkan bagi para pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami koreksi signifikan, terjun bebas hingga menyentuh level 5.348,95.

Penurunan tajam tersebut setara dengan amblesnya 245,82 poin, yang merefleksikan pelemahan sebesar 4,39% selama sesi perdagangan pertama berlangsung. Kejadian ini terlihat jelas dari pantauan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, di mana pengunjung terlihat mengabadikan momen di depan layar digital.

Aksi jual yang terjadi pagi itu berlangsung secara masif, menyebar ke hampir seluruh penjuru pasar saham domestik. Data menunjukkan bahwa dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya segelintir yang mampu bertahan dari tekanan jual tersebut.

Secara rinci, sebanyak 606 saham tercatat mengalami pelemahan harga, sementara hanya 57 saham yang berhasil menguat, dan sisanya, 296 saham, terpantau stagnan. Kondisi ini mengindikasikan dominasi sentimen negatif di kalangan investor pagi itu.

Aktivitas transaksi mencerminkan kegelisahan pasar, di mana nilai transaksi sudah mencapai Rp2,85 triliun dengan volume perdagangan mencapai 3,77 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 279 ribu kali selama sesi pertama.

Koreksi yang melampaui 4% hanya terjadi dalam rentang waktu sekitar 10 menit perdagangan, sebuah indikasi kuat adanya tekanan jual yang sangat agresif. Hal ini menunjukkan bahwa kepanikan masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan sentimen pasar pada sesi pembukaan tersebut.

Koreksi mendalam pada IHSG ini tidak terjadi tanpa sebab, mengingat pasar keuangan Indonesia masih harus menghadapi berbagai dinamika eksternal dan internal. Salah satu faktor yang dicermati investor adalah ketahanan fiskal dalam negeri di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Kondisi global semakin diperburuk oleh perkembangan di Timur Tengah, di mana Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada hari Minggu (7/6/2026). Kejadian ini merupakan kali pertama sejak gencatan senjata antara Teheran dan Washington diberlakukan pada April lalu, menambah ketidakpastian secara global.

Perkembangan di Timur Tengah ini mendapat respons keras dari para pejabat terkait. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menuding bahwa blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat serta serangan Israel di Lebanon merupakan pelanggaran kesepakatan yang telah ada.