TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah menggodok rencana ambisius pembangunan Giant Sea Wall (GSW) yang diklaim akan menjadi benteng pertahanan bagi 60% kawasan industri dan 30 juta penduduk di Pesisir Utara (Pantura) Jawa dari ancaman kenaikan muka air laut dan dampak perubahan iklim.
Namun, muncul pertanyaan mendasar mengenai apakah solusi tunggal GSW ini benar-benar mujarab atau justru berpotensi menciptakan serangkaian masalah baru, baik secara bio-fisik maupun sosial ekonomi. Pembangunan masif ini diprediksi akan mengubah dinamika oseanografi dan ekologi perairan pesisir secara signifikan.
Keputusan pemerintah untuk mempercepat pembangunan GSW di tengah ketidakpastian ekonomi menimbulkan paradoks, mengingat proyeksi anggarannya mencapai fantastis, yakni Rp1.300 triliun. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai sumber pembiayaan, terutama ketika nilai tukar Rupiah terhadap Dolar terus terdepresiasi, yang otomatis akan menaikkan biaya konstruksi.
Mengingat besarnya biaya dan potensi dampak samping, muncul desakan untuk mengeksplorasi alternatif lain yang lebih efisien, berorientasi padat karya, serta adil secara ekologi bagi wilayah Pantura Jawa. Skenario perlindungan pantai tidak harus selalu berupa beton raksasa.
Dikutip dari Bisnis.com, terdapat setidaknya tiga skenario alternatif yang dapat dikembangkan, yakni infrastruktur hijau (green infrastructure), bio-infrastruktur, atau pendekatan hibrida yang menggabungkan keduanya.
Skenario pertama adalah pembangunan GSW sepanjang 500 kilometer dari Banten hingga Gresik, yang diperkirakan menelan biaya $80 miliar AS atau sekitar Rp1.300 triliun. Penulis artikel ini mempertanyakan apakah alokasi anggaran sebesar itu tidak akan menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau menumpuk utang tahunan.
Penelitian Opdyke et al (2026) dijadikan landasan untuk membandingkan biaya, di mana "pembangunan GSW menyebabkan terjadinya penggusuran dan biaya konstruksinya 278 kali lebih mahal per meter garis pantai dibandingkan menanam mangrove," ujar penulis.
Skenario kedua adalah bio-infrastruktur, yang berfokus pada penghutanan kembali pesisir melalui penanaman mangrove dan vegetasi pantai lainnya. Jika diterapkan pada bentangan 500 km dengan lebar 500 meter, total biaya hingga tahun ketiga diperkirakan hanya berkisar antara Rp1,63 triliun hingga Rp2 triliun, jauh lebih kecil dari GSW.
Mengacu pada standar Bank Dunia, total biaya bio-infrastruktur diperkirakan hanya US$41 juta hingga US$97,5 juta dollar AS (Rp656 miliar-Rp1,56 triliun) hingga tahun ketiga, yang hanya sekitar 0,13 hingga 0,15 persen dari total biaya GSW.