TREN.BISNISMARKET.COM - Tren kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pola hidup sehat terus meningkat, memicu pertumbuhan pesat pada sektor bisnis makanan sehat. Peningkatan permintaan ini terlihat jelas pada produk-produk yang menawarkan kandungan nutrisi tinggi, seperti tinggi protein, tinggi serat, rendah gula, hingga pangan fungsional.
Namun, di balik peluang pasar yang menggiurkan ini, industri makanan dan minuman nasional menghadapi tantangan struktural yang signifikan, yaitu tingginya ketergantungan pada pasokan bahan baku dari luar negeri. Bahan-bahan krusial seperti vitamin, mineral, enzim, probiotik, dan berbagai bahan pangan bernilai tambah lainnya masih didominasi oleh impor.
Perubahan perilaku konsumen ini, khususnya di kalangan generasi muda, telah mendorong industri untuk berinovasi lebih cepat dalam menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, menyoroti pergeseran fokus konsumen yang kini lebih teliti dalam memilih produk.
"Sekarang banyak generasi muda yang mulai membaca label, melihat ingredients, lalu mencoba. Kalau cocok mereka menjadi loyal," ujarnya, dikutip Jumat (3/7/2026).
Generasi muda yang kini mendominasi populasi, termasuk Generasi Z dan pascamilenial, semakin peduli terhadap kandungan gizi, memaksa produsen untuk melakukan fortifikasi dengan kolagen, vitamin, mineral, dan bahan fungsional lainnya. Inovasi ini merupakan respons langsung terhadap perubahan preferensi pasar tersebut.
Meski demikian, Adhi mengakui bahwa tantangan mendasar terletak pada belum berkembangnya industri bahan baku antara atau intermediate ingredients di dalam negeri. Akibatnya, banyak komponen penting dalam produk pangan modern harus didatangkan dari luar negeri karena kesiapan bahan baku lokal masih kurang memadai.
"Sebetulnya sumber daya lokal banyak, tetapi kesiapan bahan lokal menjadi bahan baku industri masih kurang. Intermediate ini yang perlu kita dorong," katanya.
Kondisi ini membuat industri menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi ekonomi global, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan biaya logistik internasional. Ketergantungan ini terbukti dalam data BPS, di mana impor bahan baku dan barang penolong mencapai US$79,40 miliar antara Januari hingga Mei 2026, meningkat 14,41% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
"Tekanan tersebut semakin terasa karena hampir seluruh bahan baku bernilai tambah yang dibutuhkan industri pangan modern masih berasal dari impor," tambah Adhi.