TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan teknologi yang sangat pesat kini mendorong masyarakat untuk bertransisi menuju sistem pembayaran modern, yang mengakibatkan keengganan masyarakat membawa uang tunai dalam transaksi sehari-hari.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) baru-baru ini memublikasikan sebuah riset mengenai tren penggunaan uang fisik. Riset tersebut menunjukkan bahwa porsi uang tunai yang beredar di berbagai negara cenderung menyusut seiring kemajuan sistem pembayaran digital, khususnya di negara-negara berkembang.

Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami pergeseran signifikan ini, terbukti dari melonjaknya volume transaksi uang elektronik dalam satu dekade terakhir. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pada tahun 2023, e-money telah mendominasi lebih dari 70% transaksi ritel, melampaui penggunaan kartu debit maupun kredit.

Riset dari LPEM FEB UI menggarisbawahi korelasi antara penggunaan uang elektronik dan penurunan permintaan uang tunai. "Adanya dampak yang signifikan, di mana setiap kenaikan 1% transaksi uang elektronik berkaitan dengan penurunan permintaan uang tunai sebesar 1,7%," ungkap riset LPEM FEB UI yang disusun oleh Jahen F. Rizki dan rekan, dikutip Selasa (23/6/2026).

Pengaruh penurunan penggunaan uang tunai ini terbukti jauh lebih kuat di provinsi-provinsi yang lebih maju secara digital dan urban, dengan Jawa sebagai episentrum utamanya. Hal ini disebabkan oleh infrastruktur digital yang sangat padat di Jawa, mencakup jaringan agen, terminal merchant, serta konektivitas internet dan seluler yang stabil.

Sebaliknya, wilayah di luar Jawa masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap uang tunai karena infrastruktur digital yang belum sepadat di Jawa. Riset tersebut menjelaskan bahwa faktor ini turut dipengaruhi oleh kebijakan penggunaan pembayaran elektronik.

"Kewajiban pembayaran elektronik pada jalan tol dan transportasi publik mayoritas terkonsentrasi di Jawa, sehingga berhasil membentuk kebiasaan bertransaksi digital secara konsisten setiap hari," jelas riset tersebut.

Fenomena ini juga dipercepat oleh efek jaringan (network externalities), di mana semakin banyak pelaku usaha dan konsumen yang beralih ke ekosistem digital, kenyamanan penggunaan layanan tersebut pun semakin meningkat. Namun, adopsi di luar Jawa masih tertahan karena keterbatasan penggunaan.

Dampak digitalisasi pembayaran juga terlihat jelas pada pecahan uang kertas, di mana pecahan kecil seperti Rp2.000 hingga Rp20.000 mengalami penurunan penggunaan paling tajam karena langsung tergantikan oleh uang elektronik dalam belanja harian.