TREN.BISNISMARKET.COM - Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast Auto, mengumumkan rencana strategis yang signifikan dengan menjual dua pabrik manufaktur utamanya dalam sebuah transaksi bernilai miliaran dollar AS. Langkah ini, yang dilansir dari Money, telah memicu spekulasi mengenai tata kelola perusahaan di bawah naungan konglomerasi Vingroup milik miliarder Pham Nhat Vuong.

VinFast, yang didirikan pada tahun 2017, dikenal sangat agresif dalam ekspansi global dan menggelontorkan dana besar untuk membangun bisnis mobil listrik mereka selama satu dekade terakhir. Meskipun demikian, perusahaan ini tercatat belum pernah berhasil mencatatkan keuntungan finansial sejak awal berdirinya.

Dalam pengumuman resmi yang disampaikan pekan lalu, VinFast berencana melepaskan bisnis manufakturnya di Vietnam dengan nilai total sekitar 13,3 triliun dong Vietnam, atau setara 506 juta dollar AS. Pembeli juga akan mengambil alih beban utang perusahaan yang mencapai sekitar 6,9 miliar dollar AS.

Skema pelepasan aset ini dirancang untuk mengimplementasikan model bisnis yang lebih ringan aset atau asset light bagi VinFast. Melalui strategi baru tersebut, korporasi akan mengalihkan fokus utamanya dari pengoperasian fasilitas produksi massal ke aktivitas riset dan pengembangan produk.

Pihak Vingroup menyatakan bahwa restrukturisasi ini bertujuan membersihkan neraca keuangan VinFast dari beban utang yang besar. Biaya operasional produksi selama ini diakui sebagai penghambat utama kerugian masif, di mana perusahaan merugi hingga 3,9 miliar dollar AS pada tahun lalu saja.

Meskipun strategi ini dinilai dapat memperkuat fundamental keuangan VinFast, sejumlah pengamat pasar mulai mempertanyakan struktur transaksi yang rumit di baliknya. Sorotan tajam muncul karena adanya keterlibatan pihak-pihak yang memiliki hubungan dekat dengan Vingroup dan Pham Nhat Vuong.

"Dari perspektif strategis dan keuangan, langkah ini masuk akal dan memberikan fondasi yang solid bagi VinFast untuk tumbuh," ujar Mehdi Jaouadi, seorang analis otomotif dari YCP Singapura.

Jaouadi juga menambahkan bahwa terdapat kejanggalan dari sisi tata kelola korporasi dalam keputusan strategis ini. "Namun, dari perspektif tata kelola, keputusan strategis ini memiliki beberapa tanda bahaya dan menimbulkan beberapa pertanyaan," lanjutnya.

Pengusaha properti Nguyen Hoai Nam menjadi salah satu sosok yang paling disorot dalam kesepakatan ini, karena ia baru saja mengambil alih kendali penuh atas perusahaan yang akan membeli lebih dari 95 persen saham manufaktur VinFast. Nam diketahui juga menjabat posisi penting di dewan direksi Vincom Retail, sebuah unit bisnis Vingroup.