TREN.BISNISMARKET.COM - Raksasa investasi asal Amerika Serikat, Berkshire Hathaway, mengambil langkah strategis yang sangat defensif dengan mengumpulkan dana tunai dan surat utang jangka pendek pemerintah (Treasury bills). Pada Kamis (28/5/2026), total likuiditas perusahaan ini mencapai angka fantastis, yakni hampir US$ 397 miliar atau setara sekitar Rp 6.400 triliun.

Langkah akumulasi kas dalam jumlah masif ini dipimpin oleh duet investor legendaris Warren Buffett bersama dengan penerusnya, Greg Abel. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap kondisi pasar saham di Wall Street yang dinilai sedang mengalami lonjakan harga dan berpotensi mencapai level terlalu mahal.

Strategi penimbunan likuiditas ini memicu kewaspadaan tinggi di kalangan pelaku pasar modal. Tim investasi Berkshire Hathaway dilaporkan justru secara aktif mengurangi kepemilikan saham mereka pada perusahaan-perusahaan besar ternama, termasuk Apple dan Bank of America.

Keputusan mengurangi porsi saham ini dilakukan meskipun pasar sedang dalam fase reli yang didorong oleh euforia tren kecerdasan buatan (AI). Fokus utama perusahaan adalah menjaga fleksibilitas likuiditas daripada memaksakan diri membeli aset yang harganya dianggap sudah mengalami overvalued.

Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) yang ditawarkan oleh obligasi jangka pendek pemerintah Amerika Serikat saat ini kembali terlihat menarik. Imbal hasil tersebut dilaporkan bertahan kuat di kisaran 4% hingga 5%, memberikan pendapatan yang stabil dan minim risiko bagi Berkshire Hathaway.

Kebijakan menahan diri alias tidak agresif membeli saham ini sejalan dengan filosofi fundamental value investing yang dipopulerkan oleh Warren Buffett dan mendiang Charlie Munger. Prinsip utama strategi ini adalah disiplin hanya membeli saham dengan fundamental kokoh ketika harganya berada di bawah nilai intrinsik.

Meskipun langkah kehati-hatian ini menuai kritik dari sebagian pelaku pasar Wall Street karena dianggap melewatkan potensi keuntungan besar dari reli indeks S&P 500 sepanjang tahun 2024 hingga 2025, strategi serupa pernah terbukti efektif di masa lalu.

Dilansir dari Investor Daily yang mengutip laporan Work Money, "Tim investasi Berkshire Hathaway justru sibuk mengurangi kepemilikan saham mereka di perusahaan besar seperti Apple dan Bank of America saat pasar sedang mengalami reli akibat tren kecerdasan buatan (AI)."

Warren Buffett memiliki rekam jejak memanfaatkan momentum kepanikan pasar, seperti saat gelembung dot-com tahun 2000 dan krisis finansial global 2008, untuk mengakuisisi saham berkualitas dengan harga diskon besar.