TREN.BISNISMARKET.COM - Ancaman serius terkait perubahan iklim semakin nyata, terutama dalam bentuk kenaikan permukaan air laut yang diproyeksikan terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Fenomena ini menimbulkan risiko besar bagi banyak wilayah pesisir dunia, termasuk Indonesia, yang dapat menghadapi banjir masif hingga potensi tenggelam.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mengeluarkan proyeksi bahwa permukaan air laut global berpotensi naik antara 0,9 hingga 1,8 meter (3 hingga 6 kaki) pada tahun 2100. Kenaikan drastis ini disebabkan oleh mencairnya lapisan es di kutub akibat pemanasan global yang terus berlangsung.

Kenaikan permukaan air laut ini menjadi perhatian khusus bagi Jakarta, ibu kota Indonesia, yang disebut sangat rentan. Dilansir dari Sciencing, Sabtu (4/7/2026), Jakarta termasuk dalam daftar kota besar dunia yang paling berisiko menghadapi ancaman tenggelam akibat kombinasi kenaikan air laut dan penurunan permukaan tanah.

Tanda-tanda ancaman ini sudah mulai terlihat melalui peningkatan frekuensi dan intensitas fenomena banjir yang terjadi di berbagai wilayah. Sebagai contoh, awal Maret 2025 saja, beberapa area Jabodetabek dan Jawa telah digenangi banjir, dengan Bekasi mengalami kondisi terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dilansir dari Sciencing, "Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Masalah ini kian ekstrem, hingga pemerintah Indonesia memilih memindahkan ibu kota [ke IKN]," demikian disebutkan dalam analisis tersebut.

Secara geografis, Jakarta dibangun di atas dataran rendah yang dulunya merupakan wilayah rawa, membuatnya sangat rentan terhadap masuknya air. Kondisi ini diperparah oleh keberadaan 13 sungai yang melintasi kawasan perkotaan menuju Laut Jawa, meningkatkan risiko banjir secara signifikan.

Dilansir dari Sciencing, "Pada saat itu [2045], IKN kemungkinan menjadi pelarian dari Jakarta yang tenggelam," merujuk pada rencana pemindahan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dimulai sejak 2022. Keputusan pemindahan ini disebut dipicu oleh risiko banjir tinggi, polusi, dan masalah infrastruktur di Jakarta.

Selain Jakarta, beberapa kota besar lain di dunia juga diprediksi menghadapi ancaman serupa. Alexandria di Mesir diperkirakan 30% wilayahnya terendam air pada tahun 2050, menyebabkan pengungsian massal sekitar 1,5 juta penduduk.

Miami, Amerika Serikat, juga berada dalam bahaya besar karena lebih dari separuh wilayah Miami-Dade County hanya berjarak sekitar 6 kaki di atas permukaan laut. Dilansir dari Sciencing, "Sebanyak 60% wilayahnya diperkirakan terancam tenggelam pada tahun 2060," yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi historis jika skenario terburuk terjadi.