TREN.BISNISMARKET.COM - Ancaman global terus berkembang seiring kemajuan teknologi, dan kali ini kecerdasan buatan (AI) turut masuk dalam daftar kekhawatiran. Bukan hanya memfasilitasi penyebaran propaganda yang memecah belah, AI kini juga ditemukan dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk merencanakan serangan, menciptakan persenjataan, hingga merakit bom.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr. Juelich, dan dipublikasikan di The New York Times, menunjukkan bahwa kelompok teroris seperti ISIS dan Boko Haram semakin gencar menggunakan berbagai alat AI dalam operasi mereka. Pemanfaatan ini mencakup peningkatan kapabilitas persenjataan hingga pencarian ide-ide inovatif untuk melancarkan serangan.
"Anda mengetik pertanyaan atau menggunakan suara, lalu [tool AI] memberikan jawaban terperinci, misalnya 'Bagaimana cara membuat bom?', dan kemudian [tool AI] memberi tahu caranya. Ia seperti robot manusia! Kami sering menggunakannya," ujar seorang mantan komandan Islamic State West Africa Province, faksi utama Boko Haram, kepada Juelich tahun lalu.
Temuan Dr. Juelich ini didasarkan pada hampir 60 wawancara yang dilakukan sepanjang tahun lalu dengan 27 mantan anggota Boko Haram di Nigeria. Beberapa di antara mereka membeberkan bahwa chatbot AI digunakan untuk mendapatkan informasi teknis yang krusial dalam menyempurnakan senjata dan merencanakan aksi teror.
Lebih lanjut, para mantan anggota tersebut mengungkapkan bahwa kelompok mereka bahkan mengadakan sesi pelatihan khusus. Sesi ini, yang kabarnya dipimpin oleh anggota yang memiliki kaitan dengan ISIS, bertujuan mengajarkan cara penggunaan chatbot AI secara lebih efektif dan tersembunyi.
Dalam sesi pelatihan tersebut, para anggota dilaporkan menggunakan laptop yang dilengkapi VPN dan perangkat lunak enkripsi untuk menyamarkan aktivitas daring mereka. Para pengajar membimbing mereka dalam membuat akun AI, memberikan pernyataan yang tepat agar mendapatkan respons yang relevan, serta cara mengelabui sistem pembatasan keamanan yang ada pada AI.
Salah satu kasus yang disorot adalah penangkapan seorang pria berusia 27 tahun di Tunisia pada Mei lalu. Pria tersebut diduga terlibat dalam rencana serangan terhadap museum atau situs Yahudi di Paris, di mana penyelidik menyatakan bahwa AI turut berperan dalam perencanaan serangan tersebut.
Daniel Byman, seorang pakar terorisme dari Universitas Georgetown, menekankan bahwa kelompok teroris tidak terpaku pada satu platform chatbot saja. Mereka secara aktif beralih di antara berbagai platform AI, termasuk ChatGPT, Claude, Gemini, Grok, dan DeepSeek, untuk memaksimalkan potensi penggunaan.
Direktur CIA John Ratcliffe belum lama ini menyamakan rencana kelompok teroris dalam memanfaatkan AI dengan ancaman "senjata nuklir digital". Hal ini mengindikasikan tingkat keparahan potensi penyalahgunaan teknologi ini.