TREN.BISNISMARKET.COM - Sektor keuangan Indonesia saat ini tengah menjadi sasaran empuk berbagai ancaman serangan siber. Risiko yang dihadapi tidak hanya sekadar pencurian data, namun juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi nasabah dan merusak reputasi lembaga perbankan.
Ancaman siber ini semakin meluas, menyasar berbagai lini, termasuk Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan perusahaan fintech. Lintasarta, sebagai penyedia layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), termasuk pusat data dan keamanan siber, melihat tren peningkatan serangan ini dengan serius.
Prediksi menunjukkan bahwa jumlah serangan siber di tahun 2025 akan mencapai angka fantastis, yaitu 4,41 miliar serangan. Angka ini menggarisbawahi urgensi penguatan keamanan siber di seluruh sektor keuangan.
President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menyoroti peran penting transformasi digital dalam mendorong perbankan, termasuk Bank Daerah, untuk mengembangkan layanan berbasis digital. Inovasi ini memang membawa kemudahan, namun juga membuka celah baru bagi ancaman siber.
"Transformasi teknologi digitalisasi mendorong perbankan termasuk Bank Daerah untuk mengembangkan layanan digital," ujar Armand Hermawan.
Namun, Armand Hermawan menambahkan bahwa kemampuan siber di kalangan Bank Pembangunan Daerah masih bervariasi. Perbedaan kapabilitas ini menjadi salah satu tantangan dalam menciptakan ekosistem keamanan siber yang merata dan kuat.
"Sayangnya kemampuan siber BPD masih beragam," kata Armand Hermawan.
Menyadari kebutuhan krusial ini, Lintasarta hadir untuk memberikan dukungan. Perusahaan ini berkomitmen untuk membantu meningkatkan keamanan siber di sektor perbankan daerah di era kecerdasan buatan (AI).
Lintasarta berupaya mengembangkan teknologi keamanan siber yang canggih. Solusi yang ditawarkan dirancang khusus untuk menghadapi kompleksitas serangan siber modern yang terus berevolusi.