TREN.BISNISMARKET.COM - Amerika Serikat kini tengah mengarahkan perhatiannya pada Kazakhstan, negara mayoritas Muslim terbesar di Asia Tengah, bukan untuk sumber energi fosil, melainkan untuk mengamankan apa yang disebut sebagai "harta karun" baru. Harta karun tersebut adalah tungsten, sebuah mineral strategis yang menjadi perebutan negara-negara adidaya dunia.

Tungsten sangat krusial bagi kemajuan teknologi modern dan sektor pertahanan karena memiliki kekerasan ekstrem dan ketahanan terhadap suhu tinggi. Logam ini digunakan dalam pembuatan semikonduktor, peralatan teknologi canggih, hingga komponen hulu ledak rudal dan jet tempur.

Kepentingan vital AS terhadap mineral ini mendorong intervensi langsung dari pemerintahan tinggi. Dilansir dari New York Times, Selasa (30/6/2026), Presiden Donald Trump secara pribadi mendorong terwujudnya kesepakatan akses bagi investor Amerika ke salah satu cadangan tungsten terbesar dunia yang belum tergarap.

"Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Kazakhstan telah memberikan akses kepada sekelompok investor Amerika yang memiliki hubungan dengan presiden dan menteri perdagangan terhadap salah satu cadangan tungsten terbesar di dunia yang belum tergarap," tulis New York Times mengenai kesepakatan tersebut.

Nilai strategis tungsten meningkat signifikan seiring dengan dominasi Republik Rakyat Tiongkok dalam perdagangan logam tersebut. Pembatasan ekspor tungsten dan mineral kritis lainnya oleh Beijing telah memicu kekhawatiran serius di negara-negara Barat mengenai keamanan rantai pasokan bahan baku penting mereka.

Kondisi ini memaksa AS dan sekutunya untuk giat mencari sumber pasokan alternatif di luar pengaruh Tiongkok. Dalam konteks ini, Kazakhstan muncul sebagai opsi paling menjanjikan karena penyimpanan cadangan tungsten dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal selama ini.

Kazakhstan sendiri memiliki sejarah panjang sebagai pemasok bahan mentah strategis bagi Moskow ketika masih menjadi bagian dari Uni Soviet, termasuk uranium dan berbagai logam industri. Setelah bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991, banyak cadangan mineral di sana belum mengalami pengembangan optimal, menjadikannya target utama bagi investor global.

Namun, proyek ekstraksi mineral strategis ini juga memicu sorotan politik di Amerika Serikat terkait potensi konflik kepentingan. New York Times secara khusus menyoroti bahwa kelompok investor yang mendapatkan akses istimewa ke proyek tersebut memiliki koneksi dengan keluarga Presiden Donald Trump dan Menteri Perdagangan AS saat itu, Howard Lutnick.

Sorotan tersebut semakin menguat ketika terungkap bahwa anak-anak kedua pejabat tinggi tersebut mulai menjalin hubungan bisnis dengan mitra-mitra yang terlibat dalam proyek yang tengah dinegosiasikan oleh pemerintahan ayah mereka.