TREN.BISNISMARKET.COM - Ambisi besar Microsoft dalam mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) ternyata berbanding lurus dengan peningkatan signifikan pada jejak karbon perusahaan. Dalam laporan terbarunya, Microsoft mengungkap bahwa emisi gas rumah kaca mereka melonjak hingga 27 persen jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, menandakan tantangan lingkungan yang dihadapi industri teknologi.

Fenomena ini sebagian besar disebabkan oleh kebutuhan energi yang masif untuk operasional pusat data yang terus berkembang. Lonjakan emisi kategori Scope 2, yang mencakup emisi dari listrik yang dibeli, dilaporkan meningkat hampir sepuluh kali lipat, menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada sumber energi konvensional.

Selain dampak pada emisi karbon, ekspansi infrastruktur AI juga memberikan tekanan besar pada sumber daya air. Kebutuhan air Microsoft mengalami kenaikan sebesar 22 persen, mencapai sekitar 8.170 megaliter sepanjang tahun 2025.

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar separuh dari total konsumsi air tersebut berasal dari wilayah yang telah dikategorikan sebagai daerah rawan krisis air. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan pasokan air di tengah pertumbuhan AI yang pesat.

Perubahan dalam pelaporan emisi ini dipicu oleh keputusan strategis Microsoft pada Februari 2025. Perusahaan memutuskan untuk menghentikan pembelian sertifikat energi dan kredit penghilangan karbon yang sebelumnya digunakan untuk mengimbangi emisi dalam laporan mereka.

Langkah ini diambil demi mewujudkan komitmen aksi iklim yang dinilai lebih transparan dan akuntabel. Meski demikian, keputusan ini membuat Microsoft untuk sementara waktu tidak lagi berada dalam posisi netral karbon.

Dikutip dari TechXPlore, langkah transparansi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menyajikan data lingkungan yang lebih jujur kepada publik. "Demi transparansi, Microsoft menghentikan pembelian kredit karbon, meski membatalkan posisi netral karbon sementara waktu," demikian kutipan yang beredar.

Perkembangan ini sejalan dengan laporan yang sama dari raksasa teknologi lainnya, Google dan Amazon. Keduanya juga mencatat kenaikan emisi masing-masing sebesar 18 persen dan 16 persen, yang secara eksplisit dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur AI dan ekspansi pusat data mereka.

"Ketiganya sama-sama mengakui bahwa ekspansi pusat data (data center) untuk mendukung AI membuat upaya pengurangan emisi karbon yang mereka usung menjadi semakin sulit terlaksana," demikian disebutkan dalam analisis perkembangan industri.