TREN.BISNISMARKET.COM - Pengusaha dan investor teknologi ternama, Bryan Johnson, menjadi sorotan publik atas upayanya yang luar biasa untuk menolak penuaan. Ia dikabarkan rela merogoh kocek hingga jutaan dolar atau miliaran rupiah demi mempertahankan kemudaan fisiknya.
Upaya Johnson dalam menjaga penampilan awet mudanya mencakup berbagai metode, bahkan yang dianggap tidak lazim oleh banyak orang. Salah satunya adalah praktik pertukaran darah dengan putra bungsunya.
Namun, di balik segala usaha kerasnya tersebut, Bryan Johnson justru harus menghadapi kenyataan pahit. Pria berusia 48 tahun ini mengaku menderita penyakit autoimun yang belum ada obat penyembuhnya.
Penyakit yang dideritanya diketahui bernama gastritis autoimun. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel lambung, yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius termasuk kanker.
Diagnosis ini terungkap setelah tim medis mendeteksi adanya kekurangan zat besi kronis pada tubuh Johnson, yang diduga bukan sekadar anemia biasa.
Setelah menjalani kolonoskopi yang hasilnya masih dalam batas normal, Johnson kemudian melakukan serangkaian tes lanjutan. Tes endoskopi dan beberapa biopsi akhirnya mengonfirmasi keberadaan gastritis autoimun pada stadium awal.
"Saat AIG ditemukan, perawatan medis standar mengakui kekalahan dan mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengelolanya, tidak peduli dampaknya yang mengerikan atau mematikan," ujar Bryan Johnson.
Johnson menduga sebagian penyebab penyakitnya berasal dari kebiasaan gaya hidup yang kurang sehat di masa mudanya. Ia mencontohkan konsumsi gula berlebih saat kecil dan tingkat stres yang tinggi di usia 20-an yang berdampak pada kenaikan berat badannya.
Meskipun demikian, Johnson tetap optimistis dapat mengatasi penyakitnya melalui pendekatan biohacking. Namun, efektivitas metode ini masih menjadi pertanyaan di kalangan banyak pihak, termasuk gaya hidupnya yang menghindari paparan sinar matahari.