TREN.BISNISMARKET.COM - Perusahaan riset kecerdasan buatan (AI) terkemuka, Anthropic, belakangan ini menjadi sorotan publik menyusul perilisan model terbarunya yang diberi nama Mythos. Anthropic, yang dikenal sebagai pemasok teknologi AI canggih untuk kebutuhan militer Amerika Serikat, kini mengambil langkah mengejutkan dengan menyerukan penundaan pengembangan AI lebih lanjut.
Langkah ini diambil setelah Anthropic mengalami friksi dengan Pemerintah AS, yang berujung pada dimasukkannya perusahaan tersebut ke dalam daftar risiko rantai pasokan. Friksi terjadi karena Anthropic menolak menyediakan modelnya untuk pengawasan domestik militer AS, meskipun perusahaan tersebut tetap merilis teknologi yang semakin maju.
Model Mythos yang baru diluncurkan menimbulkan kekhawatiran global karena kemampuannya yang cepat dalam mengidentifikasi kerentanan sistem, yang berpotensi dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber. Model ini sebelumnya telah menunjukkan kemampuannya mengguncang sektor perbankan dan perangkat lunak dengan menemukan celah dalam kode yang sudah ada.
Inti dari desakan Anthropic adalah peringatan bahwa kecepatan perkembangan teknologi AI saat ini jauh melampaui kemampuan masyarakat untuk mengantisipasi dan mengelola risiko yang ditimbulkan. Perusahaan tersebut khawatir jika perkembangan ini terus berlanjut tanpa jeda, dampaknya bisa sangat besar bagi stabilitas global.
Menurut analisis internal Anthropic, kemampuan sistem AI untuk menyelesaikan tugas secara mandiri telah berlipat ganda setiap empat bulan. Hal ini mengarah pada skenario yang disebut "peningkatan diri rekursif," yaitu titik di mana teknologi dapat berkembang tanpa perlu intervensi dari manusia.
Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic, dan Marina Favaro, pimpinan Anthropic Institute, menyampaikan pandangan ini dalam unggahan blog perusahaan. Mereka menyatakan, "Kita belum sampai di sana, dan peningkatan diri AI secara rekursif bukanlah sesuatu yang pasti. Tetapi hal itu bisa terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh sebagian besar institusi."
Lebih lanjut, mereka menekankan pentingnya kesiapan sosial sebelum batas teknologi tersebut tercapai. "Ketika sistem [AI] sudah mampu membangun penerusnya secara penuh, cara kita mengamankan mereka, mengawasi mereka, dan membentuk perilaku mereka jadi jauh lebih penting," ujar Jack Clark dan Marina Favaro dalam tulisan mereka.
Penundaan pengembangan AI ini diharapkan dapat memberikan waktu bagi masyarakat global untuk mempersiapkan diri menghadapi implikasi teknologi yang semakin canggih. Kekhawatiran mengenai sistem AI yang lepas kendali manusia telah meningkat seiring dengan kemajuan pesat yang dicapai industri.
Dilansir dari Reuters, Senin (8/6/2026), Anthropic juga menyoroti lambatnya respons regulasi, terutama di Amerika Serikat, rumah bagi banyak pengembang AI terkemuka. Pemerintahan Trump, melalui perintah eksekutif baru-baru ini, meminta perusahaan AI menyerahkan model tercanggih mereka untuk pengujian keamanan siber sukarela sebelum dirilis ke publik.