TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat dalam adopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) kini mulai memengaruhi lanskap ketenagakerjaan secara global, menimbulkan tantangan baru terutama bagi mereka yang baru memasuki dunia profesional. Fenomena ini secara khusus terlihat dalam berkurangnya peluang kerja bagi lulusan baru atau fresh graduate yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi mereka.

Situasi ini menjadi sorotan utama di Swiss, di mana implementasi AI yang semakin masif menyebabkan perusahaan cenderung mengurangi penawaran posisi tingkat junior. Hal ini berbanding terbalik dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih terampil dalam mengoperasikan atau mengelola sistem berbasis kecerdasan buatan.

Temuan ini merupakan hasil dari sebuah penelitian komprehensif yang dilaksanakan oleh portal pekerjaan ternama di Swiss, jobsch. Riset tersebut menganalisis data dari 7,3 juta iklan lowongan pekerjaan serta melibatkan survei terhadap lebih dari 3.600 orang pekerja profesional di negara tersebut.

Dilansir dari Reuters, studi tersebut mengungkap adanya penurunan signifikan dalam ketersediaan posisi tingkat pemula. Ditemukan bahwa proposisi lowongan kerja tingkat pemula yang diiklankan pada tahun 2025 menunjukkan angka yang lebih rendah 32% jika dibandingkan dengan periode pra-AI, yaitu antara tahun 2019 hingga 2022.

Beberapa sektor pekerjaan dinilai paling rentan dan terdampak secara langsung oleh gelombang adopsi AI yang begitu besar. Sektor-sektor tersebut meliputi bidang pemasaran, administrasi, keuangan, dan teknologi informasi (IT).

Menariknya, seiring dengan penurunan posisi junior, permintaan akan keahlian spesifik AI justru meningkat tajam di berbagai peran. Peningkatan ini terlihat dari tawaran untuk posisi senior pada peran yang terpapar AI yang naik sebesar 26% pada tahun 2025, sementara terjadi penurunan jumlah pegawai junior hingga 165 posisi.

Namun, terdapat pengecualian di mana posisi junior masih tetap diminati, terutama pada sektor yang memerlukan kehadiran fisik di luar kantor atau dalam kegiatan penelitian. Sektor-sektor ini umumnya adalah perawatan kesehatan, konstruksi, dan perdagangan, karena di bidang tersebut masih terjadi kekurangan tenaga kerja yang substansial.

Kondisi pasar kerja yang berubah ini secara alami menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan generasi muda yang baru lulus. Dari hasil survei yang dilakukan, tercatat bahwa 41% dari peserta yang berusia di bawah 25 tahun telah menyuarakan ketakutan mereka mengenai masa depan karier mereka.

Kekhawatiran utama yang mereka rasakan adalah potensi kehilangan relevansi atau nilai mereka di lingkungan kerja karena keberadaan otomatisasi yang didukung AI. Fenomena psikologis ini dikenal sebagai AI FOBO, atau Fear of Becoming Obsolete.