TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat infrastruktur pusat data (data center) yang mendukung sistem kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS) kini mulai menimbulkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat setempat. Infrastruktur raksasa ini memerlukan konsumsi sumber daya alam yang sangat besar, sehingga memicu keluhan di berbagai wilayah.

Salah satu isu utama yang mencuat adalah penurunan kualitas sumber daya air di beberapa negara bagian yang menjadi lokasi pembangunan fasilitas tersebut. Selain itu, warga juga harus menghadapi lonjakan signifikan pada tagihan konsumsi listrik rumah tangga mereka.

Konsumsi air dan listrik yang masif merupakan konsekuensi langsung dari operasional pusat data AI yang beroperasi 24 jam penuh. Hal ini diperparah dengan berkurangnya lahan hijau akibat pembangunan gedung-gedung data center yang berukuran sangat besar di area pemukiman.

Dampak signifikan terhadap kualitas hidup sehari-hari masyarakat Amerika Serikat ini telah memicu gelombang penolakan terhadap proyek konstruksi data center baru. Fenomena penolakan ini kini menjadi perhatian serius menjelang pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan pada 3 November 2026 mendatang.

Survei terbaru yang dilakukan oleh Reuters bersama Ipsos menunjukkan bahwa hanya sepertiga warga AS yang menyatakan persetujuan terhadap konstruksi data center AI secara masif. Mayoritas responden memilih untuk menyuarakan penolakan keras jika pembangunan tersebut direncanakan di area tempat tinggal mereka.

Hasil survei ini dengan jelas merefleksikan ketidaknyamanan publik Amerika terkait ledakan pembangunan data center di negara adidaya tersebut. Dalam survei yang dilaksanakan selama enam hari tersebut, tercatat 4.531 warga AS berpartisipasi dari seluruh negara bagian.

"Hanya 33% warga AS yang setuju dengan pembangunan data center secara masif dan cepat," demikian temuan survei tersebut, sementara sisanya mencapai 64% menyatakan penolakan.

Lebih lanjut, dukungan terhadap konstruksi yang cepat dan besar cenderung lebih dominan berasal dari kelompok Republik dibandingkan dengan pemilih dari Partai Demokrat. Meskipun demikian, isu lingkungan dan utilitas ini tetap menyentuh kedua kubu politik.

Sebanyak 57% responden survei secara kolektif menyatakan penolakan jika data center dibangun di wilayah tempat tinggal mereka. Angka ini mencakup dua pertiga dari pemilih Demokrat dan separuh dari pemilih Republik yang menentang pembangunan di dekat rumah mereka.