TREN.BISNISMARKET.COM - Dua ilmuwan asal Tiongkok, Hong Wang dan Yu Deng, baru saja menorehkan sejarah dalam dunia matematika internasional dengan meraih penghargaan bergengsi Medali Fields. Penghargaan ini seringkali disetarakan dengan Nobel di bidang matematika, menandai pencapaian luar biasa bagi kedua peneliti.

Peraihan Medali Fields oleh Hong Wang tidak terlepas dari kontribusinya dalam memecahkan sebuah misteri matematika yang telah berusia lebih dari satu abad. Ia berhasil menyelesaikan soal yang diajukan oleh matematikawan Jepang, Soichi Kakeya, pada tahun 1917.

Soal tersebut menanyakan tentang luas terkecil yang dapat disapu oleh sebuah pensil saat diputar 360 derajat. Bersama rekannya, Josh Zahl, Hong Wang menemukan bahwa pensil tersebut ternyata mengambang dalam ruang tiga dimensi, bukan pada permukaan datar.

Sementara itu, Yu Deng, yang juga berasal dari Tiongkok, meraih penghargaan yang sama atas keberhasilannya memecahkan Masalah Keenam Hilbert. Masalah ini diajukan oleh matematikawan Jerman, David Hilbert, pada tahun 1900 dan berkaitan dengan pemahaman perilaku keseluruhan berdasarkan pergerakan partikel individual.

Deng berhasil memberikan solusi atas persoalan klasik tersebut melalui pengamatannya yang mendalam terhadap perilaku gas. Kapasitasnya dalam menganalisis fenomena alam untuk menjawab tantangan matematika diapresiasi secara luas.

"Suatu kehormatan besar nama saya tercantum dengan semua matematikawan hebat dan saya kagumi," ujar Yu Deng, dilansir dari BBC.

Keberhasilan Hong Wang dan Yu Deng disambut meriah oleh masyarakat Tiongkok. Berbagai platform media sosial di Tiongkok, seperti Weibo dan Redmine, diramaikan oleh diskusi mengenai pencapaian mereka, dengan tagar terkait Medali Fields dan matematikawan Tiongkok pertama yang meraihnya dilihat jutaan kali.

Media-media di Tiongkok secara luas memberitakan pencapaian fenomenal ini. Peraih Medali Fields pertama dari etnis Tionghoa, Shing-Tung Yau, turut memberikan pandangannya mengenai signifikansi momen ini.

"Untuk komunitas matematikawan China, ini jadi mimpi yang kami harapkan bisa diwujudkan selama beberapa dekade," ucap Shing-Tung Yau.