TREN.BISNISMARKET.COM - Pada Jumat, 10 Juli 2026, dua emiten yang baru saja melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada awal Juli, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH), kompak mengalami aksi jual oleh investor.
Saham JELI, yang dikenal sebagai produsen makanan ringan bermerek INACO, menjadi yang paling tertekan. Emiten ini anjlok 14,81% hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) di level Rp1.495 per saham.
Sementara itu, saham BACH, emiten yang bergerak di bidang genset dan infrastruktur telekomunikasi dan terafiliasi dengan Grup Djarum, juga mengalami koreksi tajam. Sahamnya rontok hampir 10% dan diperdagangkan di harga Rp500 per saham.
Salah satu alasan utama pelemahan saham JELI adalah valuasi yang dinilai terlalu tinggi dibandingkan kinerja laba bersihnya. Pada tahun 2025, JELI membukukan laba bersih sebesar Rp39,00 miliar, meskipun naik 235,5% dari tahun sebelumnya, lonjakan tersebut berasal dari basis yang sangat kecil.
Dengan laba yang tergolong kecil, harga IPO JELI sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba (PER) di kisaran 31-39 kali. Angka ini jauh di atas rata-rata emiten serupa di sektor makanan dan minuman yang berkisar antara 12-18 kali.
Kondisi ini diperparah oleh tren pendapatan JELI yang justru menyusut selama tiga tahun berturut-turut, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025. Lonjakan laba emiten ini lebih disebabkan oleh efisiensi dan perbaikan marjin, bukan peningkatan volume penjualan.
Sinyal pelemahan semakin nyata terlihat dari arus kas JELI. Arus kas dari aktivitas operasi ambruk sekitar 83% pada 2025, terutama akibat lonjakan piutang usaha dari Rp104,21 miliar menjadi Rp174,13 miliar. "Keuntungan yang tercatat di atas kertas belum tentu berubah menjadi kas yang benar-benar masuk ke kas perusahaan, sekaligus memunculkan risiko gagal bayar dari sisi distributor," demikian analisis yang berkembang di pasar.
Untuk saham BACH, tekanan jual juga dipicu oleh indikasi aksi distribusi besar. Data ringkasan broker menunjukkan satu broker tercatat sebagai net seller senilai sekitar Rp117,4 miliar di BACH, angka terbesar di antara emiten IPO batch ini, yang mengarah pada fase "Big Distribution".
Dari sisi fundamental, likuiditas BACH menjadi sorotan. Rasio kasnya pada 2025 hanya 0,02 kali atau sekitar 2%, anjlok dari 0,09 kali di tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan ruang gerak yang sempit untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, terlebih dana IPO sebagian dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset.