TREN.BISNISMARKET.COM - Indonesia memulai langkah strategis untuk memulihkan populasi babi nasional yang terdampak wabah African Swine Fever (ASF) dengan mengimpor 546 ekor bibit babi hidup dari Denmark. Langkah ini merupakan inisiatif pertama dalam upaya pemulihan yang signifikan.
Upaya ini dilakukan oleh Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) yang memandang impor bibit unggul sebagai solusi percepatan. Wabah ASF sendiri telah menyebabkan kerugian populasi sekitar 4 juta ekor babi setiap tahunnya, sehingga pemulihan menjadi prioritas utama.
Proses impor ini merupakan hasil negosiasi mendalam antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark. Setelah kesepakatan tercapai, pemerintah Indonesia menawarkannya kepada sektor swasta.
"Setelah nego, pemerintah Indonesia menawarkan ke swasta, nah perusahaan swasta asal Manado ini yang menyanggupinya, mengimpor 546 ekor babi kondisi hidup yang akan dijadikan bibit, dan ini patut diapresiasi," ujar Ketua AMI, Sauland Sinaga.
Bibit babi yang didatangkan dari Denmark ini telah dinyatakan bebas dari berbagai penyakit berbahaya, termasuk ASF. Ketatnya seleksi kesehatan oleh otoritas kedua negara memastikan keamanan dan kualitas bibit.
Selain bebas penyakit, bibit babi asal Denmark memiliki keunggulan genetik yang tinggi. Induk babi dari negara tersebut diketahui mampu menghasilkan rata-rata 14 anak per kelahiran, dengan komposisi daging yang lebih baik dan penggunaan pakan yang efisien.
"Denmark merupakan salah satu rujukan genetik babi terbaik di dunia. Kombinasi Landrace–Yorkshire (LY) dinilai mampu menghasilkan pertumbuhan dan kualitas daging yang baik sehingga cocok untuk mempercepat pemulihan populasi babi nasional pasca-ASF," jelas Sauland Sinaga.
Rencana impor bibit babi unggul ini telah dipersiapkan sejak 3 hingga 4 tahun lalu, pasca merebaknya ASF pada tahun 2019. Kekurangan populasi yang ditimbulkan wabah ini diperkirakan mencapai 400.000 induk per tahun.
Kedatangan 546 ekor bibit babi di Manado dipastikan tidak akan memicu monopoli pasar di Sulawesi Utara. Pasokan bibit yang masih terbatas berbanding dengan tingginya permintaan peternak justru membuka peluang peningkatan bagi peternak.