TREN.BISNISMARKET.COM - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengungkap adanya penolakan kuat terhadap implementasi program Bahan Bakar Nabati (BBN) campuran solar dengan biodiesel 50% atau B50. Penolakan ini diduga berasal dari pihak yang berkepentingan agar Indonesia tetap bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM).

Program B50 sendiri telah diluncurkan implementasi mandatory-nya pada Kamis, 9 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri serta mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari luar.

Presiden Prabowo menjelaskan bahwa alasan penolakan yang disampaikan pihak-pihak tersebut beragam, mulai dari kekhawatiran akan kerusakan mesin kendaraan hingga ketidakmauan industri otomotif untuk menyesuaikan suku cadang. Pernyataan ini disampaikan saat peresmian lima bendungan di Lombok, yang disiarkan secara daring, Jumat, 10 Juni 2026.

"Dulu waktu kita mulai, waduh banyak yang menentang [B50]," ujar Presiden Prabowo saat acara tersebut. Beliau menambahkan, "Dibilang tidak bisa dipakai, nanti mesin rusak, nanti pabrik tidak mau kasih kita mesin, nanti ini, nanti itu,".

Dugaan kuat Presiden Prabowo adalah bahwa pihak yang menolak implementasi B50 sesungguhnya mendapatkan keuntungan finansial jika Indonesia terus melakukan impor solar. Hal ini terkait dengan potensi komisi yang bisa diperoleh dari setiap transaksi impor.

"Pokoknya mereka enggak mau kita [mengimplementasikan] B50," kata Presiden Prabowo. "Karena dia mau supaya apa itu? Kita impor [solar]. Dia mau impor, impor, impor. Nah di situ dia ambil komisi," tegasnya.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyoroti manfaat ekonomi dari B50. Ia menyatakan bahwa program ini berpotensi menekan angka impor solar dan menghemat devisa negara hingga mencapai Rp170 triliun.

Selain itu, implementasi B50 juga diklaim dapat meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hingga sekitar Rp23,49 triliun. Program ini juga diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja baru.

Dari sisi lingkungan, B50 juga berkontribusi signifikan dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Diharapkan pada tahun 2026, emisi dapat berkurang hingga sekitar 44,46 juta ton CO₂.