TREN.BISNISMARKET.COM - Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) diwarnai aksi jual bersih oleh investor asing pada perdagangan akhir pekan. Pada penutupan sesi I hari Jumat, 10 Juli 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp290,36 miliar di seluruh pasar.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pergerakan dana asing ini terpantau melalui data transaksi Stockbit Sekuritas yang dihitung berdasarkan harga rata-rata sesi pertama. Secara rinci, nilai transaksi investor asing mencapai Rp3,05 triliun, yang terdiri dari aksi beli sebesar Rp1,38 triliun dan aksi jual sebesar Rp1,67 triliun.

Tekanan jual dari investor luar negeri ini sebagian besar menyasar saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar, khususnya di sektor perbankan. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai Rp85,28 miliar, disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp74,68 miliar.

Selain sektor finansial, beberapa emiten terkemuka lainnya juga tidak luput dari aksi lepas saham oleh investor asing. Di antaranya adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp57,66 miliar, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) senilai Rp36,00 miliar, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) sebesar Rp32,43 miliar.

Sebaliknya, sektor komoditas justru menjadi instrumen penyeimbang karena terpantau ramai dikoleksi oleh pemodal asing di tengah tekanan jual tersebut. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) memimpin aksi beli bersih asing dengan nilai Rp25,60 miliar, disusul oleh PT Elnusa Tbk. (ELSA) senilai Rp18,43 miliar.

Meskipun dibayangi oleh aksi jual bersih asing yang cukup masif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di teritori positif pada paruh pertama perdagangan. Indeks ditutup menguat tipis sebesar 6,03 poin atau naik 0,1 persen ke level 5.918,47 dengan total transaksi mencapai Rp4,7 triliun.

Kondisi pasar modal dalam negeri saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika sentimen global yang sedang berkembang. Pelaku pasar terus mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah, peringatan risiko ekonomi global dari IMF, serta proyeksi suku bunga tinggi yang diperkirakan bertahan lebih lama.

Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh rilis kebijakan strategis pemerintah serta indikator ekonomi terkini. Investor tengah menyoroti peluncuran program mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto serta data penjualan ritel bulanan dari Bank Indonesia yang menunjukkan perbaikan.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Cnbcindonesia. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.