TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah kabar mengejutkan datang dari dunia akademik global setelah sebuah akun peneliti Indonesia di platform Google Scholar menjadi sorotan utama. Akun tersebut tercatat telah mencapai angka sitasi yang luar biasa tinggi, yakni dikutip lebih dari 5,4 juta kali.
Pemilik akun yang menjadi perbincangan hangat ini adalah Yoesoep Edhie Rachmad, seorang peneliti yang terverifikasi menggunakan alamat email institusional Universitas Terbuka di Pamulang. Data yang tertera di Google Scholar menunjukkan bahwa total kutipan untuk karyanya mencapai angka fantastis 5.470.038 kali.
Fenomena ini mulai menarik perhatian luas ketika seorang dosen dari University of Michigan, Misha Teplitskiy, mengunggahnya melalui akun X pribadinya. Teplitskiy secara terbuka menyoroti pencapaian Yoesoep dalam konteks ilmuwan paling hebat di dunia berdasarkan metrik sitasi Google Scholar.
Melalui unggahannya, Teplitskiy mempertanyakan pemeringkatan ilmuwan terkemuka, "Siapa ilmuwan terhebat sepanjang masa [dengan acuan kutipan Google Scholar]? Apakah Einstein? Atau Bengio atau Hinton? Bukan. Pelayan sejati ilmu pengetahuan adalah Mr. Rachmad dari Indonesia. Ia sangat produktif menerbitkan [karya ilmiah] setelah ChatGPT meluncur," ujar Teplitskiy.
Lebih lanjut, Misha Teplitskiy turut membagikan tangkapan layar daftar peneliti dengan akumulasi kutipan tertinggi di Google Scholar melalui akun X miliknya. Dalam daftar yang diunggah tersebut, nama Yoesoep Edhie Rachmad menempati posisi teratas, bahkan melampaui total sitasi yang dikumpulkan oleh seluruh artikel yang terdaftar atas nama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Selain di Google Scholar, jejak publikasi Yoesoep juga dapat diverifikasi melalui platform ORCID, sebuah sistem identifikasi unik bagi peneliti. Di ORCID, tercatat bahwa Yoesoep Edhie Rachmad memiliki total 2.511 artikel ilmiah yang terdaftar dalam databasenya.
Artikel terbaru yang terdaftar atas namanya di ORCID tertanggal tahun 2025, dengan judul spesifik, "Artificial Intelligence in Sovereign Wealth Funds: Danantara's Competitive Edge in the Digital Era." Hal ini menambah kompleksitas data mengingat tahun penerbitannya yang berada di masa depan.
Jumlah kutipan yang sangat tinggi ini sontak memicu reaksi skeptis dan rasa penasaran dari berbagai warganet dan akademisi di seluruh dunia. Banyak pihak yang menyuarakan keraguan mendalam mengenai validitas angka sitasi yang tercantum pada profil tersebut.
Salah satu peneliti dari University College London, Robert Palgrave, memberikan pandangan kritisnya mengenai implikasi data ini bagi metrik akademik. "Kontribusi terbesarnya adalah menunjukkan bahwa H-index kini tidak ada artinya. Ini sebetulnya sangat berharga," kata beliau.