TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada hari tersebut ditutup dengan kondisi yang sangat tertekan, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan. Tekanan jual yang masif di pasar domestik ini memperpanjang tren koreksi tajam yang telah terjadi selama tiga bulan terakhir.

Berdasarkan data perdagangan yang tercatat, IHSG ditutup pada level 5.342,14 pada penutupan sesi kedua. Penurunan ini setara dengan ambruknya indeks sebesar 252,63 poin atau menyusut 4,52% dari penutupan sebelumnya.

Secara intraday, volatilitas pasar terlihat sangat tinggi, bahkan indeks sempat menyentuh titik terendah baru di level 5.317,91. Koreksi tajam pada hari itu membawa pelemahan IHSG sejak awal tahun menembus 38%.

Kondisi ini diperparah dengan perbandingan dari posisi tertinggi yang dicapai pada 20 Januari 2026, di mana IHSG tercatat telah tergerus hingga 41,51%. Hal ini mengindikasikan bahwa sentimen pasar didominasi oleh aksi jual yang sangat agresif dan kepanikan investor.

Aksi jual terjadi hampir merata di seluruh papan perdagangan, dengan sebanyak 661 saham tercatat mengalami pelemahan harga. Hanya 78 saham yang berhasil menguat, sementara 78 saham lainnya ditutup stagnan pada perdagangan tersebut.

Aktivitas transaksi menunjukkan nilai pertukaran mencapai Rp 21,73 triliun, dengan volume perdagangan yang mencapai 32,52 miliar saham yang diperdagangkan melalui frekuensi transaksi sebanyak 2,22 juta kali. Semua sektor perdagangan dilaporkan mengalami pelemahan, dengan sektor kesehatan, teknologi, dan konsumer non-primer mencatat koreksi terdalam.

Emiten unggulan seperti TLKM, BBRI, dan BBCA menjadi pemberat utama yang berkontribusi signifikan terhadap kinerja negatif IHSG pada hari itu.

Pelemahan pasar saham ini terjadi di tengah dinamika global yang kompleks, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus menjadi perhatian utama investor. Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026), yang merupakan eskalasi pertama sejak gencatan senjata berlaku pada April lalu.

Ketegangan ini dipicu oleh tuduhan Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, mengenai pelanggaran kesepakatan oleh blokade laut AS serta serangan Israel di Lebanon, yang menurutnya membuat aset Israel dan pangkalan AS di kawasan menjadi target yang sah.