TREN.BISNISMARKET.COM - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyampaikan pandangan mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini, menilai bahwa peluang terulangnya krisis finansial seperti yang terjadi pada tahun 1998 relatif kecil. Meskipun demikian, lembaga tersebut menekankan bahwa risiko perlambatan ekonomi secara keseluruhan tetap menjadi ancaman yang signifikan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, mengidentifikasi beberapa faktor yang perlu diwaspadai oleh para pemangku kepentingan saat ini. Faktor-faktor tersebut meliputi kombinasi antara suku bunga yang tinggi, pelemahan daya beli masyarakat, dan perlambatan laju investasi.

Rizal Taufikurahman juga menyoroti adanya potensi tekanan dari pasar keuangan yang dapat berdampak negatif pada sektor riil. Hal ini dapat terjadi melalui penekanan pada penyaluran kredit perbankan dan peningkatan risiko kredit bermasalah secara bertahap.

"Dan volatilitas pasar keuangan yang dapat menekan penyaluran kredit dan meningkatkan risiko kredit bermasalah secara bertahap," ungkapnya kepada Bisnis pada hari Minggu, 14 Juni 2026.

Rizal menjelaskan bahwa terdapat perbedaan fundamental antara kondisi sektor keuangan Indonesia saat ini dengan masa krisis finansial 1998. Pada masa itu, krisis dipicu oleh lemahnya fundamental perbankan, tingginya utang dalam mata uang asing (valas), serta lemahnya pengawasan yang berlaku.

Akibat kondisi tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah pada tahun 1998 dengan cepat berubah menjadi krisis sistemik yang meluas di seluruh perekonomian. Kondisi saat ini dinilai jauh lebih kokoh berkat permodalan perbankan, pengawasan, dan jaring pengaman keuangan yang telah diperkuat secara signifikan.

"Sehingga risiko bergeser dari krisis perbankan menjadi perlambatan sektor riil akibat tekanan global dan domestik," tegasnya saat memberikan pandangan mengenai pergeseran risiko tersebut.

Meskipun demikian, Rizal berpendapat bahwa sistem keuangan Indonesia menunjukkan resiliensi yang cukup kuat dalam menghadapi gejolak yang bersumber dari global. Ketahanan ini harus dibuktikan melalui kemampuan sistem keuangan dalam mendukung laju pertumbuhan ekonomi nasional.

"Perbankan yang sehat tidak cukup jika intermediasi melemah, kredit produktif melambat, dan sektor riil kehilangan momentum. Tantangan utamanya adalah menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif," tutup Rizal Taufikurahman.